Home / Headline / Dua Kapal Pesiar Mancanegara Masuk Pulau Kur dan Kabupaten Biak

Dua Kapal Pesiar Mancanegara Masuk Pulau Kur dan Kabupaten Biak

RUSTAM RETTOB / MATARADARINDONESIA.COM

Fakfak – Ada dua kapal pesiar asal mancanegara berukuran besar yang saat ini melintasi perairan laut Maluku dan Papua, mereka terlihat tidak melakukan aktifitas yang berdampak terhadap kerusakan keindahan laut namun ingin menikmati surga-surga tersebunyi yang ada di perairan Muluku dan Papua,

Dirilis oleh Humas Pemda Kabupaten Biak melalui akun facebook mereka bahwa saat ini di Biak Miliuner dari Kapal Pesiar “The World” Kunjungi Goa Jepang Hingga Pasar Darfuar

Dermaga pelabuhan laut Biak dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan secara langsung  Kapal Pesiar “The World” saat bersandar pada Jumat (17/01/2020) sekitar pukul 12.00 wit yang disambut dengan tari yospan, injak piring (mansorandak) bagi Kapten  MV The World oleh Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor Turbey Dangeubun, Kepala Dinas Perhubungan, Fransisco Olla, mewakili KSOP Biak, GM. GIA Cabang Biak, GM PT.Pelindo IV Cabang Biak,dan stakeholder terkait di pelabuhan laut Biak, perwakilan TNI Polri.

Para penumpang di Kapal Pesiar ini tidak serta merta melainkan “Miliuner” yang telah melewati sejumlah peraturan yang diberlakukan mulai dari data pekerjaan, pendapatan per bulan hingga asal usul keluarga sehingga wajib terbayar dengan angka Rp 39 miliar hingga Rp 200 miliar per kamarnya.

Mereka ikut Paket ke Goa Jepang dan Pasar Darfuar lewat travel ekowisata Papua melalui kerja sama dengan Cruise Asia 140 0rang ke Biak tapi yang ikut paket 116 orang, dan apartemen terapung ini akan berlayar selama 18 hari di  Papua dan berakhir di Maluku, demikian keterangan dari  Ekspedition Team, Oswald Huma.

Satu Kapal Pesiar asal Mancanegara saat sandar di pelabuhan laut Kabupaten Biak- Provinsi Papua : Foto Humas Pemda Biak

Diakui, Kadispar Dangeubun bahwa, kedatangan MV The World meningkatkan citra pariwisata Biak yang pastinya dapat menarik lebih banyak turis mancanegara ke Biak, selain itu kerajinan khas mama-mama Biak laris dibeli para miliuner.

Beberapa masyarakat yang dijumpai saat berada di dermaga menyatakan rasa bangga dan senang dengan kehadiran kapal pesiar ini, bahkan mereka minta agar kapalnya berlabuh 2-3 hari sehingga leluasa mendokumentasikannya.

“Ini hal yang luar biasa, karena penumpang kapal yang mewah ini adalah orang-orang kaya tapi dari cara berpakaian, berbicara mereka sangat sederhana, ramah dan begitu memuji Biak” ungkap Leny, salah satu masyarakat yang berada di dermaga saat kapal akan berangkat Jumat malam yang dirili oleh Humas Biak,

Tidak hanya di Kabupaten Biak – Provinsi Papua, salah satu Kapal jenis Miliuner ini juga terlintas di perairan laut provinsi Maluku, tepatnya di Pulau Bui, Desa Kaimear, Kecamatan Pulau – Pulau Kur, Kota Tual,

Melalui akun facebook salah satu warga di Desa Kaimear, bernama Maswatu Rzky, sempat memposting kapal pesiar tersebut dengan berbagai foto para turis tersebut yang sedang menikmati indahnya laut dengan kekayanaan yang berlimpah di Pulau Bui sana,

Dalam laman akun facebook Maswatu Rizky (Sekretaris Garda Pemuda NasDem) Kota Tual ini tertulis, Kapal LAPEROUSE kini sedang berlabuh di Pulau Bui, Desa Kaimear, Kecamatan Pulau – Pulau Kur, Kota Tual, akun itu mengupdate 26 foto kapal tersebut,

Kapal tersebut masuk pulau Bui, Desa Kaimear, Kecamatan Pulau – Pulau Kur,Kota Tual pada 19 Januari 2020,

Kedatangan puluhan bahkan diduga mencapai ratusan orang mancanegara di Pulau nan indah ini tanpa diundang baik oleh pemerintah provinsi, maupun pemerintah daerah, bahkan mungkin juga tidak diketahui oleh pemerintah Kecamatan dan Desa setempat,

Namun dengan alasan keindahan pulau tersebut bisa menarik para warga asing hingga masuk dan mereka selama berada di pulau terindah ini sempat membangun komunikasi dan berupayah mengadaptasi guna mendapatkan informasi dan melihat betapa banyak kekayaan laut di indonesia yang terletak di pulau-pulau terkaya di Indonesia,

Situs cadas purbakala di Desa Kaimear, Kota Tual, Provinsi Maluku

Diketahui bahwa di Desa Kaimear, Kecamatan Pulau-Pulau Kur, Kota Tual, Provinsi Maluku, terdapat peninggalan gambar purbakala pada sebuah cadas. Gambar cadas atau rock art di gua ceruk tebing di tepi pantai Pulau Kaimear itu baru didata setahun lalu oleh Balai Arkeologi Maluku, tepatnya pada September 2018.

Gambar cadas adalah gambar yang dibuat oleh manusia prasejarah pada permukaan batu yang keras. Gambar tersebut berupa lukisan, goresan, maupun cukilan. Pada umumnya, gambar cadas yang ditemukan di Indonesia berbentuk cap-cap tangan, figur manusia, binatang, perahu, dan garis-garis geometris.

Di Kepulauan Maluku, terdapat beberapa situs gambar cadas. Jumlah gambar yang dimiliki situs gambar cadas purbakala Kaimear menjadi terbanyak yang pernah ditemukan di wilayah ini.

Banyaknya bahkan melebihi dari yang pernah ditemukan di Ohoidertawun, Pulau Kei Kecil, oleh arkeolog Chris Hugh Bellard pada 1988 yang memiliki sekitar 300 motif.

Selain itu, gambar cadas di Pulau Kaimear ini kemungkinan berada di tebing yang paling tinggi, sekitar 80-100 meter dari permukaan laut, dibandingkan dengan temuan gambar cadas lainnya di Maluku.

Gambar cadas Kaimear terdapat di tiga titik lokasi tebing di tepi pantai. Salah satunya yang berada di dinding ceruk Goa Kailean, di sebelah barat Desa Kaimear, memiliki kuantitas gambar yang terbanyak dengan motif yang paling beragam. Jumlahnya diperkirakan mencapai 400 hingga 500 motif.

Gambar-gambar cadas purbakala di Pulau Kaimear menampilkan bentuk figuratif dan non figuratif. Bentuk figuratif di antaranya adalah bentuk manusia, perahu, bentuk cap tangan, dan hewan. Sementara bentuk non figuratif di antaranya berupa bentuk garis, titik, dan lingkaran.

Bentuk gambar manusia terdiri dari bentuk manusia biasa, manusia tinggi (jangkung), manusia dengan membawa atribut peralatan semacam senjata, manusia dengan pikulan, manusia menari, serta wajah manusia berbentuk bulat dan segitiga. Sementara bentuk gambar binatang pada umumnya sulit untuk diidentifikasi. Ada ratusan motif yang belum teridentifikasi.

Gambar cadas purbakala ini ditemukan secara tak sengaja oleh Balai Arkeologi pada September 2018. Saat itu, Badan Arkeologi Maluku sedang melakukan survei penelitian mengenai kebudayaan Islam di daerah Kepulauan Kei.

Sebelumnya situs ini tidak pernah dipublikasikan ataupun dilaporkan oleh peneliti mana pun di dunia. Gambar cadas purbakala ini ditemukan melalui laporan dari masyarakat setempat tentang adanya gambar-gambar di tebing pesisir pantai yang lokasinya tak jauh dari Desa Kaimear. (RR)

About admin

Check Also

Gabungan Mahasiswa dan OKP Demo Tolak UU Cipta Kerja di Fakfak, Sebut DPR Dewan Penghianat Rakyat

Fakfak – Puluhan Mahasiswa dan Gabungan OKP melakukan aksi penolakan terhadap UU Cipta Kerja di ...

Soal Penolakan UU Cipta Kerja, Ali Mochtar Ngabalin : Tempuh Jalur Hukum Saja, MK Itu Lembaga Resmi Negara

Fakfak – Menyikapi polemik penolakan UU Cipta Kerja tersebut, Staf Khusus Presiden, Ali Mochtar Ngabalin ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!