Home / Metro / Kesehatan / Keluhkan (SOP) Penanganan Pasien Orang Tuanya Hingga Lumpuh, Direktur RSUD Fakfak : Tidak Ada Pemberian Obat Melebihi Dosis.

Keluhkan (SOP) Penanganan Pasien Orang Tuanya Hingga Lumpuh, Direktur RSUD Fakfak : Tidak Ada Pemberian Obat Melebihi Dosis.

Suasana rapat di DPRD Fakfak, foto ; mataradarindonesia.com

Fakfak – Masalah manajemen dan pelayanan di RSUD Fakfak akhir-akhir ini menjadi sorotan publik, belum lama ini DPRD Kabupaten Fakfak memanggil Bupati, Direktur RSUD, dan Kepala Dinas Kesehatan, serta Kepala DPPKAD Fakfak untuk didengar paparanya terkait strategi penanganan pencegahan Covid – 19 di Kabupaten Fakfak yang kian meroket kasusnya.

Lagi-lagi sorotan politisi NasDem di sebuah media online bahwa hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar beberapa waktu sebelumnya terkesan tidak dapat dijalankan secara maskimal alias diabaikan oleh eksekutif dalam hal ini pihak RSUD fakfak dan Dinas Kesehatan,

DPRD menyoroti adanya kasus meninggal dunia akibat terpapar Covid-19 semakin meningkat meskipun saat ini kasus positif akibat tertualr Covid -19 juga menurun drastis, mereka berharap pihak rumah sakit dan dinas kesehatan bisa merespon hasil RDP baru-baru ini dengan mengaktualisasikanya dalam kinerja setiap hari,

Belum selesai hasil RDP tersebut dijalankan dengan maksimal, menyusul keluhan warga mengenai SOP pelayanan dan penanganan pasien yang ada di RSUD Fakfak, mereka sempat mengeluhkan pasien orang tuanya yang selesai menjalani perawatan di RSUD Fakfak kini sedang lumpuh, mereka menduga adanya pemberina obat yang dikonsumsi melebihi dosis,

Bertempat diruang sidang utama DPRD Fakfak, rabu, (28/7) salah satu warga berinisial IT terlihat bersama adiknya menyambangi gedung DPRD Fakfak, mereka berhasil masuk ruangan tersebut setelah pertemuan antara DPRD Fakfak, RSUD Fakfak, Dinas PUPR2KP Fakfak, Dinas Sosial Fakfak dihadiri 12 orang anggota DPRD Fakfak.

Warga berinisial IT yang mengeluhkan soal pelayanan dan penanganan pasien di RSUD Fakfak didampingi seorang adiknya menguraikan kronologis bahwa orang tuanya kini sedang lumpuh, hal ini diduga akibat over mengkonsumsi obat dari rumah sakit meskipun orang tuanya diopname bukan karena lumpuh melainkan selesai opname langsung lumpuh, jelasnya

Ia beberkan bahwa orang tuanya saat ini tidak bisa bangun bahkan makanpun harus disuap dan juga buang kotoran saja harus dituntun oleh anggota keluarganya dirumah, IT dihadapan 12 anggota DPRD Fakfak kebetulan hadir direktur RSUD Fakfak, pihaknya mempertanyakan penjelasan mengenai kondisi orang tuanya yang kini lumpuh saat ini, apa penyebabnya, ?

“Pelayanan seperti apa yang diberikan kepada pasien sehingga setelah keluar dari rumah sakit beliau tiba-tiba lumpuh, karena pihak keluarga dan kami sebagai anaknya saja kami tidak tau obat dan suntikan yang diberikan oleh dokter, beberapa waktu kemarin kami ke pihak RSUD bertemu direktur untuk minta penjelasan dan konfirmasi tetapi tidak ada penjelasan dan solusi yang kami dapatkan, bahkan kami dipersilahkan lapor ke polisi kalau ada pelayanan yang salah prosedur”, Begitu cerita IT dihadapan Direktur RSUD Fakfak dan Anggota Dewan serta undangan lain yang ikut rapat di ruang sidang DPRD Fakfak, rabu. (29/7) kemarin.

Lanjut diceritakan bahwa orang tuanya sudah lumpuh diduga akibat mengkonsumsi obat dan suntikan dari pihak rumah sakit kurang lebih 1 minggu, “Orang tua kami itu sehat tapi sekarang sudah lumpuh dan saya tidak mau tau pihak rumah sakit harus bertanggung jawab”, Minta IT / anak dari orang tua (JT) yang kini lumpuh dirumahnya.

Mereka merasa tidak puas karena pelayanan tersebut dapat mengakibatkan kesehatan orang tuanya sangat tidak normal bahkan lumpuh, bayangkan, kata mereka, dalam 1 hari orang tuanya harus mengkonsumsi obat beberapa macam sebanyak 12 butir.

“Ada satu obat yang dokter katakan bahwa itu obat anti virus jadi bapak harus minum setiap jam 9 pagi itu 6 butir ditambah dengan 3 macam obat yang Vit. A. B. dan Vit C, sampai dengan 14 hari obat selesai dan bapak lumpuh, badan mati sebelah, lidah pendek, bahkan dalam 3 hari sebelumnya bapak minum obat itu ada cairan yang keluar dari telinga”, Papar inisial IT didampingi adiknya.

Menanggapi persoalan ini, Direktur RSUD Fakfak, Karyani Kastela menjelaskan berkaitan dengan kondisi saat ini maka semua pasien yang masuk rumah sakit harus diswab, jangankan pasien orang tua, pasien dengan usia mudah dan mengalami kecelakaan saat tiba di IGD pasti diswab dan jika positif maka akan dimasukkan ke isolasi ruang Covid-19.

“Setiap pasien yang datang di IGD semuanya jangankan pasien orang tua, anak muda yang mengalami kecelakaan saja kita harus swab antigen andaikan positif maka kita tetap masukkan ke ruang isolasi covid-19, ibu-ibu yang melahirkan saja swab antigen positif tetap kita masukkan ke ruang isolasi covid – 19”, Begitu penjelasan Direktur RSUD Fakfak, dr Karyani Kastela menanggapi keluhan warga yang orang tuanya kini lumpuh tersebut.

Lanjut dijelaskan bahwa untuk keluarga yang keluhkan soal orang tua mereka lumpuh diduga akibat mengkonsumsi obat-obat dari RSUD Fakfak, direktur membantah keras adanya dugaan tersebut, dan tidak mungkin kata dia, dokter memberikan obat tidak sesuai dengan keluhan pasien dan melebihi dosis sehingga terjadi lumpuh atau struk yang kini menimpah pasien yang berlamat di keluarah danaweria tersebut.

“Bapak JT ini masuk rumah sakit di RSUD Fakfak awal Juni dengan beberapa penyakit komplikasi dan dirawat sesuai dengan prosedur SOP pelayanan di rumah sakit, sebelum dilakukan semua tindakan itu sudah atas persetujuan keluarga, jadi apabila sudah ada persetujuan keluarga maka penyuntikan maupun pemberian obat sudah sesuai persetujuan tersebut”, Terang dr Karyani Kastela (Direktur RSUD Fakfak).

Mengenai keluhan lumpuhnya pasien JT akibat diduga mengkonumsi obat dari RSUD Fakfak, direktur tegas katakan, sangat tidak mungkin obat tersebut mengakibatkan terjadinya kelumpuhan pasien (JT), jika saja ada efek kelumpuhan maka sudah ditarik dari rumah sakit.

“Saya berpikir bahwa obat ini apabila mempunyai efek samping kelumpuhan maka obat ini pasti sudah ditarik dari peredaran, dan banyak sekali pasien dengan sakit covid – 19 saja diberikan obat yang sama tapi tidak ada yang mengalami kelumpuhan seperti yang terjadi pada bapak JT”, Jelasnya merespon keluhan warga tersebut.

Dokter berpendapat bahwa JT mengalami kondisi demikian karena faktor usia sedangkan jumlah obat itu dosisnya sudah sesuai, karena tidak mungkin dokter berikan obat dengan dosis yang berlebihan tetapi karena faktor usia bapak ini saat minum obat dan langsung mengalami struk tapi bukan karena kelebihan dosis obat,

“Saya berpikir bahwa karena ini faktor usia bapak ini minum obat, dan jumlah obat itu memang dosisnya sudah benar dan baik, tidak mungkin dokter sengaja berikan obat dengan dosis yang berlebihan kepada pasien, tetapi karena faktor usia bisa dia minum obat dan saat itu dia mengalami struk,

Kita tidak bisa menarik kesimpulan bahwa struk yang terjadi adalah akibat dari pemberian obat, karena obat ini efek sampingnya bukan mengalami kelumpuhan, kami juga menyampaikan permohonan maaf apabila ada keterbatasan dalam pelayanan kami di RSUD Fakfak”, Tutup dr Karyani Kastela. (ret)

About admin

Check Also

PAW Tiga Komisioner Bawaslu Fakfak Belum Ada Petunjuk

Fakfak – Tiga Komisioner Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Fakfak kini terjerat dugaan kasus Korupsi ...

Sesalkan Wakil Bupati Menandatangani Peta Titik Simpul, Dewan Adat Menuntut Bupati Fakfak Jelaskan Tiga Hal Ini

Ketua Umum Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak (Demianus Tuturop) : “Legislatif maupun eksekutif tidak menyampaikan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!