-11.8 C
New York
Minggu, Februari 1, 2026

Buy now

Bupati Fakfak Hadiri Pemancangan Tiang Alif Masjid Tua Patimburak, Begini Sejarahnya

Fakfak – Bupati Fakfak. Samaun Dahlan dan rombongan bertolak ke Distrik Kokas. Rabu, 28 Januari 2026 sore. Pukul 14.00 Wit (Jam 4 sore) tadi dengan iring-iringan kendaraan roda empat.

Setibanya di pelabuhan besar Kokas. Bupati dan rombongan selanjutnya disambut dengan perahu belang hias transportasi tardisional oleh masyarakat kampung setempat menuju Kampung Patimburak

Kehadiran Bupati dan rombongan disana untuk mengikuti rangkaian prosesi pemancangan tiang alif Masjid Wertuar Kampung Patimburak.

Bupati Fakfak. Samaun Dahlan bersama rombongan menuju Kampung Patimburak dari Kokas dengan menempuh waktu kurang lebih 10 menit.

Dijadwalkan Bupati dan rombongan akan bermalam di Kampung Patumburak untuk mengikuti pemancangan Tiang Alif Masjid Tua Wertuar.

Di Patimburak. Setibanya bupati disana dilanjutkan dengan pembacaan do`a menjelang proses pemancangan tinag alif masjid.

Sejak malam pukul 21.00 Wit (28 Januari 2026). pelaksanaan Fakafirih/Ziarah Tiang Alif, kemudian ritual tiang alif Masjid Tua. Kampung Patimburak. Distrik Arguni. Kabupaten Fakfak

Selanjutnya, pada pukul 22.00 – selesai (29 Januari 2026) dilanjutkan dengan Penampilan tarian sawat esumawa, abdan, baga-baga, dana-dana

Berikutnya pukul 05.00-05.30 Wit. pelaksanaan prosesi pemancangan tiang alif Masjid Tua Wertuar sekaligus pelaksanaan ibadah sholat shubuh secara berjama`ah.

Semua rangkaian kegiatan pemancangan tiang alif dan sambutan Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi.

Ditutup dengan sambutan Bupati fakfak nanti. Maka pada pukul 07.00 Wit. Dilakukan launching buku “Buku Masjid Tua Papua : Sejarah Masjid Wertuar”.

Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pemancangan tiang alif Masjid Tua Wertuar. Bupati Fakfak dan rombongan direncanakan kembali ke kota. Kamis, 29 Januari 2026 pagi.

Sebagai referensi, Pemancangan tiang alif masjid, khususnya bagi umat muslim merupakan tradisi sakral yang memadukan nilai adat dan agama, sering kali dipandang sebagai bagian dari syiar Islam dan upaya memakmurkan masjid.

Pemasangan tiang alif ini, sebagai bagian dari pembangunan masjid, bernilai sedekah jariyah dan simbol ketaqwaan.

Secara umum, kegiatan ini didukung oleh tokoh agama dan adat sebagai bentuk gotong royong, asalkan tidak melanggar syariat, seperti penggunaan benda najis atau perbuatan syirik.

Dalam konteks hukum Islam secara umum, mendirikan masjid atau berkontribusi pada pembangunannya adalah amal jariyah yang dianjurkan.

Selama tradisi pemancangan tiang alif ini dilakukan dengan niat ibadah, diiringi doa, dan tidak mengandung unsur syirik atau bid’ah yang dilarang, maka hal tersebut dianggap sebagai bagian dari adat yang baik (urf) dalam rangka memakmurkan masjid.

Masjid Patimburak yang terletak di Distrik Kokas Kabupaten Fakfak Papua Barat, adalah salah satu masjid tertua dan paling bersejarah di wilayah Papua. Masjid ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan umat Muslim di Fakfak, tetapi juga simbol toleransi dan persatuan dalam keberagaman masyarakat setempat. Dengan usianya yang telah mencapai lebih dari satu abad, Masjid Patimburak menyimpan jejak perjalanan panjang sejarah Islam di tanah Papua.

Masjid Patimburak didirikan pada tahun 1870 oleh seorang ulama dan tokoh masyarakat setempat bernama Imam Abuhari Bauw. Pendirian masjid ini menandai perkembangan agama Islam di Fakfak, yang mulai menyebar di Papua sejak abad ke-17 melalui jalur perdagangan. Para pedagang Muslim dari Maluku dan kawasan Nusantara lainnya membawa ajaran Islam ke Fakfak, yang saat itu sudah menjadi pusat interaksi antara masyarakat lokal dan pendatang.

Bangunan masjid memiliki desain arsitektur yang unik. Salah satu ciri khasnya adalah atap berbentuk menyerupai rumah adat Papua. Perpaduan ini mencerminkan bagaimana nilai-nilai Islam berbaur dengan budaya lokal, menciptakan harmoni yang tetap lestari hingga kini. Kabupaten Fakfak dikenal dengan semboyan “Satu Tungku Tiga Batu,” yang menggambarkan kerukunan antara tiga agama besar: Islam, Kristen Protestan, dan Katolik. Masjid Patimburak menjadi simbol nyata dari semboyan tersebut, karena dalam sejarahnya, masjid ini menjadi pusat kebersamaan warga dengan latar belakang agama yang berbeda.

Selama berabad-abad, Masjid Patimburak telah menjadi tempat berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakat setempat. Perayaan hari-hari besar keagamaan sering melibatkan partisipasi semua warga, baik Muslim maupun non-Muslim, yang menunjukkan kuatnya ikatan sosial dan toleransi di daerah tersebut. Masjid Patimburak tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai sejarah. Di dalam masjid ini, terdapat berbagai artefak dan peninggalan lama yang menunjukkan bagaimana Islam dipraktikkan dan berkembang di wilayah Papua sejak masa lampau.

Masyarakat setempat juga menjaga tradisi-tradisi Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Misalnya, adat istiadat dalam menyambut bulan Ramadan atau perayaan Idul Fitri sering kali dipadukan dengan unsur budaya lokal, menciptakan pengalaman keagamaan yang khas dan unik. Selain memiliki nilai historis yang tinggi, Masjid Patimburak juga menjadi salah satu destinasi wisata religius di Papua Barat. Wisatawan yang berkunjung ke Kokas dapat merasakan atmosfer sejarah dan kekayaan budaya di sekitar masjid ini. Lokasinya yang berada di tepi pantai menambah pesona masjid, memberikan pemandangan alam yang indah serta suasana yang tenang dan damai.

Kokas sendiri dikenal sebagai “Kota Tua,” karena banyaknya peninggalan bersejarah, termasuk situs-situs dari era Perang Dunia II. Masjid Patimburak menjadi salah satu ikon utama yang memperkaya daya tarik sejarah dan budaya Kokas. Sebagai salah satu cagar budaya penting, Masjid Patimburak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Pelestarian masjid ini mencakup upaya renovasi untuk menjaga keaslian arsitektur, sekaligus memperbaiki fasilitas untuk kenyamanan jemaah dan wisatawan.

Pelestarian juga dilakukan melalui penggalian dan dokumentasi sejarah, agar generasi muda dapat memahami nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Upaya ini bertujuan untuk menjaga Masjid Patimburak sebagai bagian dari identitas masyarakat Fakfak dan Papua Barat.

Masjid Patimburak adalah salah satu bukti nyata perjalanan sejarah Islam di Papua Barat. Dengan usianya yang lebih dari 150 tahun, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol persatuan dan toleransi antarumat beragama. Sebagai warisan budaya dan religius, Masjid Patimburak memiliki peran penting dalam membangun harmoni sosial dan memperkaya identitas masyarakat Fakfak. Kunjungan ke masjid ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga keberagaman dan melestarikan sejarah untuk masa depan.

(ret)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

error: Content is protected !!