Home / Polkam / Bahlil Ibarat Barack Obama dan Lincoln, Calon Pemimpin Masa Depan

Bahlil Ibarat Barack Obama dan Lincoln, Calon Pemimpin Masa Depan

Contents
Berasal dari keluarga miskin tak serta-merta membuat Bahlil Lahadalia menyerah terhadap hidup. Bahlil yang benar-benar mengawali karir dari titik nol kini telah menjadi seorang pengusaha sukses naik jadi Menteri.Pria asal Fakfak Papua ini, pernah menjalani berbagai profesi untuk bertahan hidup sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Mulai dari tukang kue semasa kecil, sebelumnya menjadi seorang kondektur, loper koran di Jayapura hinga menjadi sopir angkot pun dia jalani.Dengan kerja keras yang dijalani semasa hidupnya, pria kelahiran 1976 ini kemudian bisa sukses hingga menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), yang selama ini dianggap jadi ‘perkumpulan’ anak-anak pengusaha dan pejabat.Ada banyak cerita menarik yang pernah dijalani Bahlil sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Bahkan karena saking miskinnya, Bahlil pun pernah juga merasakan sakit busung lapar.“Kalau ditanya awal mula jadi pengusaha itu, mungkin saya itu dari kecil ya, dari kecil sejak SD saya itu memang sudah jualan kue ya. Itu terjadi bukan karena ingin, saya juga dulu nggak ingin jadi pengusaha. Tapi karena itu keterpaksaan. Karena memang keluarga saya itu, mama saya itu kan laundry di rumah orang, pembantu rumah tangga. Bapak saya itu buruh bangunan, gajinya Rp 7.500/hari.Jadi kami 8 orang (keluarga) kan, (awalnya) 9, terus satu meninggal, saya anak kedua. Jadi memang sejak SD itu kalau saya mau sekolah harus cari duit. Jadi saya menjual kue, menjaja kue dari apa yang mama saya buat, itu adalah bentuk keharusan yang saya harus lakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi hidup. Kalau nggak, saya nggak bisa bantu mama saya, adik-adik saya banyak.Dan dari situ lah kemudian saya bisa beli buku, bisa beli sepatu, bisa beli kelereng. Itu berlanjut terus sampai dengan SMP, saya SMP pun, karena memang kondisi orang tua yang susah, akhirnya saya pernah jadi kondektur angkot. Jadi jualan ikan di pasar, itu pernah. Terus pernah jadi helper excavator dari kontraktor, itu pernah. Tinggal di hutan pada saat musim libur sekolah. Saya SMP kelas 3, saya di SMEA, itu jadi sopir angkot.” Cerita Bahlil dari berbagai sumber.

Jakarta – Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) Saiful Chaniago menilai Menteri Investasi dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia adalah sosok pemimpin masa depan yang lahir dari kesederhanaan.

Saiful mengibaratkan perjuangan Bahlil tidak serta merta seperti membalikan telapak tangan. Tapi, perjuangan Bahlil Lahadalia, diibaratkan seperti tokoh-tokoh dunia lainnya, sebut saja Barack Obama dan Abraham Lincoln yang memiliki kehidupan di masa kecilnya tidak seberuntung anak-anak lainnya yang memiliki fasilitas kehidupan yang mencukupi.

“Barack Obama dan Abraham Lincoln, tentunya masa kecilnya kurang lebih sama seperti seorang Bahlil Lahadalia. Kondisi kehidupan keluarga yang bisa dibilang rapuh secara ekonomi, sehingga kemudian memaksa mereka untuk senantiasa berjuang guna mempertgas eksistensi dirinya sebagai sebaik-baiknya manusia di bumi,” bebernya seperti siaran pers diterima, mataradarINDONESIA.com

Perjuangan masa kecil Menteri Investasi/Kepala BKPM RI. di era Presiden Jokowi ini menurutnya, perjuangan tidak mengenal lelah, bahkan mengabaikan rasa malu serta hinaan dari orang lain.

Berasal dari keluarga miskin tak serta-merta membuat Bahlil Lahadalia menyerah terhadap hidup. Bahlil yang benar-benar mengawali karir dari titik nol kini telah menjadi seorang pengusaha sukses naik jadi Menteri.
Pria asal Fakfak Papua ini, pernah menjalani berbagai profesi untuk bertahan hidup sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Mulai dari tukang kue semasa kecil, sebelumnya menjadi seorang kondektur, loper koran di Jayapura hinga menjadi sopir angkot pun dia jalani.
Dengan kerja keras yang dijalani semasa hidupnya, pria kelahiran 1976 ini kemudian bisa sukses hingga menjadi Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), yang selama ini dianggap jadi ‘perkumpulan’ anak-anak pengusaha dan pejabat.
Ada banyak cerita menarik yang pernah dijalani Bahlil sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Bahkan karena saking miskinnya, Bahlil pun pernah juga merasakan sakit busung lapar.
“Kalau ditanya awal mula jadi pengusaha itu, mungkin saya itu dari kecil ya, dari kecil sejak SD saya itu memang sudah jualan kue ya. Itu terjadi bukan karena ingin, saya juga dulu nggak ingin jadi pengusaha. Tapi karena itu keterpaksaan. Karena memang keluarga saya itu, mama saya itu kan laundry di rumah orang, pembantu rumah tangga. Bapak saya itu buruh bangunan, gajinya Rp 7.500/hari.
Jadi kami 8 orang (keluarga) kan, (awalnya) 9, terus satu meninggal, saya anak kedua. Jadi memang sejak SD itu kalau saya mau sekolah harus cari duit. Jadi saya menjual kue, menjaja kue dari apa yang mama saya buat, itu adalah bentuk keharusan yang saya harus lakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi hidup. Kalau nggak, saya nggak bisa bantu mama saya, adik-adik saya banyak.
Dan dari situ lah kemudian saya bisa beli buku, bisa beli sepatu, bisa beli kelereng. Itu berlanjut terus sampai dengan SMP, saya SMP pun, karena memang kondisi orang tua yang susah, akhirnya saya pernah jadi kondektur angkot. Jadi jualan ikan di pasar, itu pernah. Terus pernah jadi helper excavator dari kontraktor, itu pernah. Tinggal di hutan pada saat musim libur sekolah. Saya SMP kelas 3, saya di SMEA, itu jadi sopir angkot.” Cerita Bahlil dari berbagai sumber.

Demikianlah, perjalanan perjuangan yang ditunaikan dengan ikhlas.

“Keihklasan yang dimiliki dalam perjuangannya Bahlil, tentunya telah memastikan pembentukan karakteristik serta jati diri terbaik dalam semua kepentingan kepemimpinan,” cetusnya.

Optimalisasi karakteristik dan jati diri terbaik yang dimiliki oleh Bahlil Lahadalia sambungnya, lewat proses perjuangan yang sangat panjang, meniscayakan semua rakyat Indonesia mengenalinya dengan sangat dekat. Walaupun hanya sebatas mendengar namanya.

Terbukti saat ini, Bahlil tidak saja dikenal sebagai seorang pejabat negara Indonesia, namun juga senantiasa dikenal dan didekati oleh seluruh lapisan rakyat Indonesia sebagai tokoh muda yang senantiasa sederhana dan selalu komunikatif dengan siapa saja rakyat yang berjumpa dengannya, di ruang apa saja dan ditempat mana saja.

“Kesederhanaan Bahlil Lahadalia dalam melayani semua rakyat Indonesia, tentunya menurut saya, harus menjadi simbol kepemimpinan Indonesia di masa depan,” katanya.

Bahwa kepemimpinan Indonesia masa depan, tidak saja mereka yang telah berada pada kehidupan terbaik sejak lahir, tapi kepemimpinan Indonesia harus juga mengakomodir anak kampung yang telah mempertegas nilai terbaik atas eksistensi dirinya terhadap kepentingan berbangsa dan bernegara, alias kepemimpinan yang memiliki nilai kesederhanaan seperti kakandaku terbaik Bahlil Lahadalia.

“Semoga Allah senantiasa meridhoi perjuanganmu kakanda Bahlil Lahadalia.. Aamiin,” tutupnya. (rls/ret)

About admin

Check Also

MK Tolak Gugatan Uji Formil Batas Usia Capres-Cawapres, Gibran Memenuhi Syarat Cawapres 2024

Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan uji formil Pasal 169 huruf q Undang-Undang Nomor ...

KASAD Maruli : TNI Tetap Netral, Jangan Berlebihan Menarik Kesimpulan Kasus Boyolali

ContentsBerasal dari keluarga miskin tak serta-merta membuat Bahlil Lahadalia menyerah terhadap hidup. Bahlil yang benar-benar ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!