Jakarta – Pemerintah pada Selasa (31/3/2026), baru saja mengumumkan delapan kebijakan baru sebagai langkah penghematan energi di tengah krisis global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan delapan poin kebijakan ini merupakan langkah mitigasi terhadap dinamika global sekaligus momentum langkah transformasi dan perubahan.
“Program kebijakan ini disebut dengan 8 Butir Kebijakan Transformasi Budaya Kerja Nasional dan Kebijakan Energi Pemerintah,” ucap Airlangga saat konferensi pers secara live dari Seoul pada Selasa (30/3/2026) malam.
Pertama, menegaskan kondisi perekonomian Indonesia tetap stabil dengan fundamental yang kuat meski di tengah dinamika global.
“Perlu ditekankan kepada masyarakat kondisi perekonomian nasional tetap stabil dengan fundamental yang kokoh,” katanya.
Kedua, mencakup transformasi budaya kerja yang lebih efisien. Pemerintah menerapkan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan setiap Jumat bagi aparatur sipil negara (ASN), mendorong WFH di sektor swasta, membatasi penggunaan kendaraan dinas hingga 50 persen, serta memangkas perjalanan dinas dalam negeri dan luar negeri.
“Penerapan Work From Home bagi ASN dilakukan sebanyak satu hari kerja dalam seminggu yaitu setiap hari Jumat,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan transportasi publik, penambahan cakupan Car Free Day (CFD), serta memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan normal secara tatap muka.
Kemudian, Ketiga berisi imbauan kepada masyarakat untuk menghemat energi, mengurangi mobilitas, menggunakan transportasi publik, dan tetap produktif dalam menjalankan aktivitas ekonomi.
Selanjutnya, Keempat pemerintah menetapkan kebijakan ini mulai berlaku pada 1 April 2026 dan akan dievaluasi setelah dua bulan pelaksanaan.
Lalu, kelima menyoroti potensi penghematan dari kebijakan tersebut, termasuk efisiensi dari penerapan WFH dan pengurangan mobilitas masyarakat.
“Potensi penghematan dari kebijakan Work From Home ini yang langsung ke APBN adalah Rp 6,2 triliun berupa penghematan kompensasi BBM,” kata Airlangga.
Keenam, mencakup prioritisasi dan refocusing belanja kementerian dan lembaga dengan mengalihkan anggaran dari pos non-prioritas seperti perjalanan dinas, rapat, belanja non-operasional, dan kegiatan seremonial ke program yang lebih produktif.
“Potensi prioritisasi dan refocusing anggaran kementerian dan lembaga ini dalam range Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun,” tuturnya.
Setelah itu, ketujuh adalah penerapan kebijakan biodiesel B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026 untuk mengurangi konsumsi BBM fosil sekaligus menekan beban subsidi energi.
“Ini mulai berlaku 1 Juli 2026. Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending,” ungkap Airlangga.
Terkahir, kedelapan menekankan penguatan perlindungan sosial melalui penambahan bantuan sosial kepada 22 juta keluarga penerima manfaat serta optimalisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Penyaluran bantuan langsung tunai mitigasi risiko untuk 22 juta KPM yang akan dilaksanakan di bulan ini dan bulan depan dengan nilai Rp3,9 triliun,” jelasnya.
Airlangga menegaskan, seluruh kebijakan transformasi ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk membangun ekonomi yang lebih efisien dan berdaya tahan di tengah tekanan global
“Keseluruhan kebijakan ini merupakan bagian dari transformasi struktural menuju ekonomi yang lebih efisien, produktif, dan berdaya tahan,” pungkasnya.
Jika ditotal secara keseluruhan, efisiensi dari berbagai kebijakan ini diperkirakan mencapai sekitar Rp250 triliun hingga Rp260 triliun, mencakup penghematan dari refocusing anggaran, subsidi energi, program MBG, serta penurunan konsumsi BBM di masyarakat.


