23.3 C
New York
Selasa, Juni 16, 2026

Buy now

Sambut Dua Momentum Religius, Fakfak Sebagai Contoh Kekuatan Persatuan Antar Umat Beragama di Indonesia

Fakfak – Sebetulnya Budaya Satu Tungku Tiga Batu di Fakfak benar-benar menjadi perekat persatuan masyarakat di Tanah Mbaham ini, mari kita mencapai kata sepakat bahwa, “Satu Tungku Tiga Batu Terlanjur Kuat Ikat Persatuan Masyarakat Fakfak”. kenapa tidak, budaya kekeluragaan tidak saja sebatas adat tetapi juga terlihat dalam momentum keagamaan seperti persemian Masjid maupun Gereja. Dengan tetap memperhatikan batasan kaidah-kaidahnya.

Budaya Satu Tungku Tiga Batu adalah filosofi kearifan lokal dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang melambangkan kerukunan, toleransi, dan persatuan dalam keberagaman agama, bisa dikatakan juga bahwa Budaya Satu Tungku Tiga Batu adalah mencerminkan Adat, Agama dan Pemerintah. Konsep ini menegaskan bahwa perbedaan adalah fondasi kokoh (tungku) yang menopang kehidupan bersama dalam satu ikatan kekerabatan dan persaudaraan yang tak terpisahkan. Filosofi ini mengajarkan bahwa persatuan tercipta bukan dengan menyeragamkan, melainkan dengan menempatkan perbedaan pada posisi yang seimbang dan saling menopang, layaknya tiga batu penyangga tungku

Saat ini Pemerintah maupun Masyarakat terutama lintas tokoh agama sedang melakukan berbagai persiapan menghadapi dua momentum religius yakni, Peringatan Misi Katholik dan Peringatan Masuknya Agama Islam di Tanah Papua. Misi Katholik ke-132 tahun rencana dirayakan pada, Sabtu, 23 Mei 2026 ini, sedangkan Peringatan Masuknya Agama Islam di Tanah Papua dilaksanakan pada 8 Agustus 2026 mendatang. Seluruh umat beragama (Islam maupun Kristen-red) kini terus melakukan berbagai persiapan.

Pemerintah Daerah Kabupaten Fakfak tidak tinggal diam dalam menyambut dua momentum ini. Karena suatu momentum yang sangat bersejarah setiap tahun, Bupati Fakfak. Samaun Dahlan dan seluruh perangkat saat ini terus disibukkan dengan berbagai langkah dan antisipasi persiapan pelaksanaan pada dua momentum dimaksud. Untuk momentum HUT Misi Katholik. Samaun Dahlan beberapa waktu kemarin menghadiri beberapa pra kegiatan, terkahir melakukan peninjauan terhadap kesiapan di Pulau Bonyom.

Bahwa saat ini terlihat aktivitas pembersihan dan penataan mulai dilakukan di sejumlah ruas jalan utama, kawasan pelabuhan, lokasi napak tilas sejarah misi Katolik, area pelaksanaan misa akbar, hingga titik-titik yang akan menjadi pusat kegiatan adat dan keagamaan. Aparatur sipil negara bersama masyarakat tampak bergotong royong membersihkan lingkungan, memangkas rumput, mengecat fasilitas umum, serta mempercantik kawasan kota.

Bupati Fakfak dalam keterangan resminya diterima media ini menegaskan bahwa kesiapan daerah tidak hanya mencakup suksesnya pelaksanaan acara keagamaan, tetapi juga mencakup citra Fakfak sebagai daerah bersejarah yang dikenal memiliki nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama yang kuat di Tanah Papua.

“Momentum ini adalah kehormatan besar bagi masyarakat Fakfak. Karena itu seluruh jajaran pemerintah diminta bekerja maksimal agar tamu dan peziarah yang datang merasa nyaman, aman, dan mendapatkan kesan baik selama berada di Fakfak,” ujar Bupati

Sebagai daerah pertama masuknya misi Katolik di Tanah Papua, Fakfak memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan penyebaran agama Katolik di wilayah timur Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah daerah berupaya menghadirkan suasana kota yang bersih, tertata, dan representatif selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Pulau Bonyom dan sejumlah situs bersejarah lainnya yang menjadi jejak awal pelayanan misionaris di Papua. Rangkaian kegiatan selanjutnya akan diisi dengan doa bersama, prosesi adat, pengantaran Patung Bunda Maria, napak tilas rohani, hingga misa syukur akbar bersama umat Katolik dari berbagai daerah. Tidak hanya fokus pada kebersihan kota, pemerintah daerah juga mulai melakukan koordinasi terkait pengamanan, pengaturan lalu lintas, pelayanan kesehatan, hingga kesiapan transportasi dan penginapan bagi para tamu dan peziarah yang datang ke Fakfak.

Semangat gotong royong yang diperlihatkan OPD bersama masyarakat dinilai menjadi cerminan kuat budaya persaudaraan masyarakat Fakfak yang selama ini hidup harmonis dalam keberagaman. Pemerintah daerah pun mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga kebersihan, ketertiban, dan keamanan demi menyukseskan agenda keagamaan berskala besar tersebut.

Selain menjadi momentum keagamaan, perayaan ini juga diyakini membawa dampak positif bagi promosi daerah, khususnya sektor wisata sejarah dan wisata religi di Kabupaten Fakfak. Pemerintah berharap momentum ini dapat memperkenalkan Fakfak lebih luas sebagai daerah yang kaya akan sejarah, budaya, serta memiliki semangat toleransi yang kuat di Tanah Papua.

Sementara terkait dengan persiapan peringatan masuknya Agama Islam di Tanah Papua. Bupati Fakfak juga telah melakukan sejumlah langkah persiapan dimana telah menyatakan Ijab Kabul akan hadir Ust. Das`ad Latif termasuk salah satu putra asli fakfak yaitu, KH. Ust. Fadzlan Garamatan. Acara ini akan dilaksanakan pada puncaknya yaitu, 8 Agustus 2026 mendatang. Berbagai rapat dan persiapan sedang digaga dari sekarang. Salah satu tokoh Muslim Papua yang juga Matan Bupati Fakfak. Wahidin Puarada bersama tokoh muslim lainya beberapa kali menggelar pertemuan.

Pertemuan pertama di Masjid Al-Mahdi Kompleks RTH Ma`ruf Amin. Jalan Baru, kemudian pertemuan kedua di Masjid jami Kota. Jalan Izak Tellusa Fakfak. serta pertemuan ketiga di Masjid Al-Ashar Jalan Baru atau Kompleks Perikanan Lama. Banyak agenda  yang telah dibicarakan dan disiapkan menanti pembentukan Panitia Pelaksana. Bupati Fakfak. mengajak seluruh aparat pemerintah. Umat Muslim dan juga seluruh masyarakat menyambut momentum ini sebagai bentuk syiar Islam kemudian dalam rangka mendukung dan menjaga katahanan kehidupan umat beragama dan kekeluargaan yang kokoh.

Peringatan Agama Islam Masuk Tanah Papua ke-665 Tahun. menandai momentum bersejarah masuknya Islam di Papua pada 8 Agustus 1360 Masehi (24 Ramadan 761 Hijriah). Perayaan ini menjadi momentum bersejarah untuk mengenang penyebaran Islam secara damai yang diyakini telah berlangsung sejak tahun 1360 Masehi. masuknya Islam ke Tanah Papua diyakini dimulai melalui jalur perdagangan dan dakwah oleh para ulama dari bagian barat Nusantara. Mereka membawa ajaran Islam dengan pendekatan damai, menyatu dengan kearifan lokal, dan turut membentuk identitas budaya masyarakat pesisir selatan Papua.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

error: Content is protected !!