Fakfak – Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Kabupaten Fakfak mulai memantapkan langkah untuk menghidupkan kembali denyut kaderisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kota Pala.
Leadership Basic Training (LBT) yang direncanakan berlangsung pada Desember 2026 menjadi agenda strategis untuk memastikan estafet organisasi tetap berlanjut.
Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat silaturahmi dan konsolidasi KB PII Fakfak yang berlangsung di MTs Negeri Fakfak, Selasa (1/9/2026) dalam keterangan tertulisnya diterima mataradarindonesia.com.
Pertemuan itu tidak sekadar menjadi ajang temu kembali para Kanda dan Yunda. Sejumlah langkah konkret dibicarakan sebagai Rencana Tindak Lanjut (RTL) setelah proses kaderisasi PII di Fakfak sempat terhenti beberapa waktu.
Ketua Umum KB PII Fakfak, Drs. La Boisi, S.HI., M.MPd, dalam arahannya menegaskan bahwa Keluarga Besar PII memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong terselenggaranya LBT.
Menurut La Boisi, salah satu pekerjaan penting menjelang pelaksanaan kegiatan adalah membangun komunikasi dengan sekolah-sekolah agar peserta LBT benar-benar berasal dari berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Fakfak.
“Tugas kita sebagai KB PII harus bisa mendorong agar LBT ini dapat terlaksana dan bisa memperoleh peserta dari berbagai perwakilan sekolah yang ada di Kabupaten Fakfak,” ujar La Boisi.
Ia berharap dukungan Keluarga Besar PII tidak berhenti pada pelaksanaan satu kegiatan, tetapi mampu membuka kembali ruang kaderisasi secara berkelanjutan.

Kaderisasi Menentukan Hidupnya PII
Nada reflektif muncul dari M. Kasim Rumatumia, Di hadapan para Kanda dan Yunda yang hadir, ia mengingatkan bahwa umur sebuah organisasi kader tidak ditentukan oleh banyaknya alumni, melainkan oleh kemampuannya melahirkan generasi penerus.
Pesan yang disampaikannya cukup tegas.
“Jangan sampai matinya kita bersamaan dengan matinya PII. Karena eksistensi PII terletak pada proses kaderisasi yang senantiasa berlangsung dari generasi ke generasi,” katanya.
Menurut Kasim, membangun kembali kaderisasi PII juga dapat dimaknai sebagai bagian dari amal jariyah. Sebab, ketika seseorang ikut membuka jalan bagi pembinaan generasi muda, kemudian dari proses tersebut lahir kader yang lebih baik dalam akhlak, ibadah maupun pengabdiannya kepada masyarakat, maka kebaikan itu diharapkan terus memberikan nilai bagi orang-orang yang turut berkontribusi.
Pesan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pertemuan. Para senior PII di Fakfak diingatkan bahwa pengalaman kaderisasi yang pernah mereka peroleh pada masanya perlu diwariskan, bukan berhenti sebagai cerita masa lalu.
Bentuk Panitia, Target 75 Peserta
Rapat kemudian bergerak pada agenda yang lebih konkret dengan membentuk kepanitiaan Leadership Basic Training PII Kabupaten Fakfak.
Hasil kesepakatan mempercayakan Muh. Hasbi Lie sebagai Ketua Panitia, Eliyas Kilwouw sebagai Sekretaris, dan Siti Kamaria Fidtmatan sebagai Bendahara.
KB PII Fakfak juga memasang target cukup besar. LBT Desember 2026 direncanakan berlangsung sebanyak tiga lokal, dengan kapasitas sekitar 25 peserta pada setiap lokal.
Artinya, jika target tersebut tercapai, sedikitnya 75 pelajar akan mengikuti kaderisasi dasar PII.
Jumlah itu dinilai penting untuk membangun kembali basis kader setelah aktivitas kaderisasi PII di Fakfak sempat mengalami kevakuman.
Iskandar Alam Banau, yang akrab disapa Bang Ben, turut memberikan pandangan mengenai efektivitas pengelolaan training.
Eks. Direktur eLPERA itu menilai, ketika perangkat dan sumber daya untuk sebuah training telah disiapkan, maka pelaksanaannya perlu dimaksimalkan.
“Kelola satu lokal dengan tiga lokal capeknya sama, maka memaksimalkannya sangat penting,” kata Bang Ben.
Menurutnya, kebutuhan menghadirkan kader baru dalam jumlah yang memadai menjadi semakin penting karena regenerasi PII di Fakfak sempat terputus.
Dengan demikian, LBT Desember mendatang diharapkan bukan sekadar memenuhi agenda organisasi, tetapi benar-benar menjadi titik awal munculnya generasi baru PII di Kabupaten Fakfak.
Jangan Biarkan PII Tinggal Sejarah
Pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Canda dan tawa sesekali mewarnai diskusi para Kanda dan Yunda, Namun pembicaraan mengenai masa depan PII tetap menjadi perhatian utama.
Ada kesadaran bersama bahwa kebesaran sejarah organisasi tidak cukup untuk mempertahankan eksistensinya, PII akan tetap hidup selama proses kaderisasi terus berjalan.
Karena itu, RTL yang disusun KB PII Fakfak diarahkan untuk mengubah semangat tersebut menjadi pekerjaan nyata: mempersiapkan LBT, membangun kepanitiaan, menjaring peserta dari sekolah-sekolah, menyiapkan perangkat training, serta memperkuat dukungan Keluarga Besar PII.
LBT Desember 2026 pun menjadi momentum penting. Bukan semata tentang berapa banyak peserta yang dapat dihimpun, tetapi tentang apakah mata rantai kaderisasi PII di Fakfak dapat kembali tersambung setelah sempat terhenti.
Rapat kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Abdul Mufti Rumadan, kader PII asal Merauke, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Dari sebuah pertemuan sederhana di MTs Negeri Fakfak itu, satu pesan kembali ditegaskan: PII di Kota Pala tidak boleh berhenti sebagai sejarah para senior. Ia harus diwariskan melalui kaderisasi kepada generasi pelajar berikutnya.




