
Sorong – Bupati Fakfak. Samaun Dahlan yang juga sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua Barat. menghadiri acara Seminar Nasional Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA) yang merupakan sayap Partai Gerindra. Kegiatan ini berlangsung di Sorong. Papua Barat Daya. Jumat, 16 Januari 2026 bertempat di Ballroom Vegat Hotel.
Samaun Dahlan tampak mengikuti kegiatan bertaraf Nasional ini sampai selesai kemarin di Ballroom Vega Hotel bersama sejumlah tamu undangan lainya, adapun sejumlah tamu nasional yang hadir salah satu diantaranya adalah. Hashim S. DJojohadikusumo (Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Lingkungan Hidup).
Dialog Nasional dalam rangka momen Perayaan Natal Nasional partai Gerindra dengan tema sentral yaitu “Membangun Indonesia dari Timur” dilaksanakan dalam rangka akselerasi program serta percepatan Pembangunan terutama akselerasi delapan program cepat pemerintahan Prabowo-Gibran secara merata diseluruh Tanah Papua khususnya pada beberapa sektor prioritas seperti Ekonomi Kerakyatan, Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan hidup dan Infrastruktur.
Perkembangan dan kemajuan tehnologi serta kebutuhan akan Pembangunan mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam menyiapkan regulasi dan kebijakan kebijakan yang lebih fleksibel namun harus tetap memperhatikan aspek aspek sosial, ekonimi lokal, budaya, politik dan lingkungan untuk menjaga keseimbangan dalam tatanan hidup masyarakat.
Kebutuhan dan tujuan Pembangunan nasional tercapai tetapi tidak mengorbankan daerah dan masyarakat local. Beberapa issue yang berkembang dalam 20 tahun terkahir di Tanah Papua beberapa diantaranya adalah :
Pembalakan liar (illegal Logging) menyebabkan deforestasi secara masih dan terus berlangsung sampai hari ini. Menurut penelitian terjadi kerusakan hutan akibat illegal loging sebesar 165 Hektar setiap jam dan hal ini menyebabkan kerugian negara mencapai ratusan milyar rupiah,
Belum lagi dampak linkungan dan sosialnya seperti bom waktu yang ekan terjadi kapan saja. Persitiwa bencana alam dipulau Sumatera adalah alarm bagi pemerintah pusat dan daerah untuk Bersatu memberantas dan menghentikan aksi tersebut.
Sarana dan Prasarana Infrastruktur Karakteristik dan topografi Papua menjadi tantantangan tersendiri bagi pemerintah pusat dan daerah dalam Pembangunan seperti misalnya ketesediaan fasilitas umum pemerintah seperti Sekolah, Fasilitas Kesehatan, Sarana Irigasi dan Air bersih,
Kawasan pemukiman yang layak, jalan dan jembatan Sehingga diperlukan pola pendekatan Pembangunan yang berbeda dan dari Kawasan lain di Indonesia sebab masih banyak daerah diseluruh pelosok Tanah Papua yang terisolir dan hanya bisa dijangkau dengan pesawat atau helicopter.
Pendidikan dan Kesehatan Pada sektor pendidikan meskipun pemerintah pusat dan daerah telah mengalokasikan dana yang pada kedua sektor ini melalui DAK/DAU serta dana Otonomi Khusus namun sebagian besar anggaran tidak tepat sasaran sebab masih banyak angka putus sekolah di seluruh Papua. Studi Universitas Papua pada 2023 menyebutkan 314.606 anak putus sekolah. Selanjutnya disektor Kesehatan
Menurut data BPS tahun 2024, Umur Harapan Hidup (UHH) diPapua berada pada kisaran 65 % dan usia sekolah hanya 6-7 tahun. Kedepan jangan lagi kasus kasus yang terjadi seperti almarhumah ibu Irene Sokoy yang terlambat mendapatakan pelayanan dan pertolongan kesehatan bersama janinnya sehingga akhirnya harus meregang nyawa.
Hal ini terjadi selainnya karena minimnya SDM dan peralatan medis yang tersedia juga disebabkan oleh tingkat pendidikan yang minim sehingga pengetahuan dan informasi tentang kesehatan dasar yang rendah, ketersediaan tenaga dokter, ahli gizi dan sanitasi menjadi faktor yang menyebabkan rendahnya UHH di Tanah Papua.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Setiap tahun disetiap program penerimaan Aparat Sipil Negara (ASN) selalu terjadi keributan demo dan berakhir dengan kerusuhan massal atau pengrusakan fasilitas umum milik pemerintah, juga demo dari berbagai aliansi Pengusaha Lokal Papua yang meminta paket proyek Penunjukan Langsung (PL) kepada pemerintah sering menimbulkan ketidakpuasan kepada masyarakat sehingga terjadi aski demo yang memicu keributan dan kerusuhan didaerah.
Beberapa contoh diatas adalah dampak dari kurangnya ruang informasi, komunikasi dan aksibiltas kepada ruang ruang kegiatan usaha yang memadai sehingga memberikan pilihan lain kepada masyarakat kategori kelompok usia kerja untuk bisa berkarya dan membangun usaha menuju kemandiriaan ekonomi dan sosial masyarakat.
Beberapa ulasan diatas adalah sumber gizi utama memperkuat sistem pertahan bangsa dalam upaya negara membangun dan memperkuat dan mengaja kepercayaan serta rasa cinta rakyat kepada pemerintahan pusat dan daerah sekaligus mengurangi setiap upaya adudomba dan provokasi dari kelompok anti pemerintah demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tema kegiatan Seminar Nasional tersebut adalah : “Membangun Indonesia dari Timur”, Sub Tema : “Strategi Percepatan Program Prioritas Presiden untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045”. Materi Seminar dibagi dalam empat sesi yaitu, Sesi I : UMKM, Koperasi ,Pariwisata,
Sesi II : Pertanian, kelautan dan Perikanan, Kehutanan, Sesi III : Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur dan Perumahan, dan Keynote Speak : Hashim S. DJojohadikusumo, Terakhir Pembacaan Rekomendasi dan Penyerahan Cindramata, Foto bersama dan penutupan Acara.
Kegiatan seminar nasional dihadiri oleh unsur Forkopimda provinsi Papua barat daya, kepala OPD, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan di Papua.
Ketua Panitia Pelaksana Natal Nasional Partai Gerindra yang juga Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Papua sebagai tuan rumah Natal Nasional.
“Kesempatan pelaksanaan Natal Nasional di Papua Barat Daya ini adalah suatu kehormatan yang luar biasa bagi kami. Terima kasih atas perhatian, kepedulian, dan kesediaan pengurus pusat untuk hadir dan bersama-sama dengan kami di Tanah Papua,” ujar Elisa Kambu dalam sambutannya.
Ia juga mengungkapkan bahwa rangkaian Natal Nasional meliputi seminar nasional, perayaan Natal bersama yang akan dilaksanakan di ACC Aimas Kabupaten sorong, Sabtu 17 Januari 2026 besok, serta kegiatan bakti sosial untuk menyapa masyarakat Papua Barat Daya, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
“Momentum Natal ini meneguhkan kebersamaan bahwa mereka tidak sendiri. Masih ada kita yang peduli dan hadir,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Kristen Indonesia Raya (Gekira), Nikson Silalahi, dalam wawancaranya menegaskan bahwa Papua merupakan tanah yang sangat diberkati Tuhan, baik dari sisi kekayaan alam, keindahan, maupun potensi strategisnya bagi Indonesia.
“Papua adalah pulau yang terberkati. Di lautnya ada kekayaan hayati yang luar biasa, di daratannya tumbuh pohon-pohon langka dan mahal, dan di bawahnya tersimpan tambang bernilai tinggi. Namun persoalannya, sampai hari ini masyarakat Papua belum sepenuhnya sejahtera,” kata Nikson dikutip dari RRI Sorong.
Menurutnya, tantangan utama pembangunan Papua bukan terletak pada kekurangan sumber daya alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusia dan pola kolaborasi pemerintahan.
“Sumber daya alam akan habis, tetapi jika kualitas manusia ditingkatkan, Papua akan berubah. Karena itu, kepala daerah dan masyarakat harus terus meningkatkan kapasitas diri,” tegasnya.
Nikson juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Kehadiran perwakilan pemerintah pusat, termasuk Hashim Djojohadikusumo, disebut sebagai bukti keseriusan negara dalam membangun Papua.
“Gekira Partai Gerindra siap menjadi jembatan kolaborasi antara daerah dan pemerintah pusat. Ini bukan sekadar acara Natal, tetapi momentum kebangsaan untuk membangun Indonesia dari Timur,” ujarnya.
Adapun Output yang diharapkan dari Seminar yang merupakan rangkaian Natal Nasional Partai Gerindra ini adalah Rekomendasi kepada Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat untuk mengupayakan langkah-langkah strategis dalam mengatasi berbagai macam persoalan mendasar di Papua sehingga mimpi Indonesia Emas tahun 2045 juga bisa dinikmati dan dirasakan oleh rakyat Indonesia yang ada di Tanah Papua.
(ret)


