21.6 C
New York
Sabtu, September 12, 2026

Buy now

666 Tahun Islam Masuk di Tanah Papua: Tela`ah Akademis – Lutfi Rumaday

Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua menjadi momentum penting untuk mengenang perjalanan sejarah sekaligus memperkuat nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan persatuan yang telah tumbuh serta terpelihara di Bumi Cenderawasih selama berabad-abad.  Puncak peringatan akan dipusatkan di Kabupaten Fakfak pada 8 Agustus 2026. Daerah yang dikenal sebagai salah satu pintu masuk penyebaran Islam di Tanah Papua tersebut kembali menjadi saksi perayaan sejarah.  Diharapkan peringatan ini mampu menjadi ruang untuk mempererat persatuan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun latar belakang budaya. Dari Fakfak, kita meneguhkan pesan: Islam di Papua hadir untuk merajut, bukan memisahkan

Peringatan yang menjadi salah satu agenda keagamaan dan kebudayaan di Kabupaten Fakfak merupakan tersebut diawali dengan berbagai perlombaan bernuansa Islami, seperti lomba membaca Surat Yasin dan pembacaan Kitab Barzanji. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya melestarikan sejarah penyebaran Islam di Tanah Papua yang diyakini bermula dari wilayah Fakfak.

Peringatan ini tidak saja di lakukan pada saat tanggal 8 Agustus 2026, tapi beberapa hari sebelumnya bertempat di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Fakfak.di mulai dengan lomba Islam seperti Lantunan Surat Yasin. Lantunan Shalawat dan Barzanji. dan tidak sekedar itu, tetapi di dalamnya terdapat Lomba budaya seperti Rebana Sawat, Tifa Hadrat dan Samrah yang menghidupkan kembali ruh para penyebar Islam pertama di tanah ini. Karena untuk menjaga sejarah 666 tahun, kita tidak cukup mengingat. Kita harus mengamalkan. Dan Fakfak, sebagai tempat pertama Islam menjejak di Papua, adalah tempat paling tepat untuk memulai. Dari sini dulu cahaya itu menyebar. Dari sini pula hari ini kita nyalakan lagi.

Diharapkan menjadi momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai kedamaian, toleransi, dan sejarah peradaban di Bumi Cenderawasih, Hal ini sebagaimana di sampaikan oleh :

Bupati Fakfak Samaun Dahlan Sos, M.AP dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua tidak hanya dimaknai sebagai refleksi perjalanan sejarah dan dakwah Islam, tetapi juga menjadi momentum memperkokoh nilai-nilai persatuan, toleransi, dan kehidupan harmonis yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Fakfak. Menurutnya, semangat kebersamaan yang diwariskan para leluhur melalui filosofi Satu Tungku Tiga Batu harus terus dijaga sebagai fondasi dalam membangun daerah yang damai, inklusif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan pembangunan. (15/7/2026

Ketua Panitia Peringatan, Drs. H. Wahidin Puarada, M.Si., yang juga merupakan Bupati Fakfak dua periode itu beberapa hari sebelum Pembukaan Lomba, menyampaikan bahwa rangkaian persiapan terus dimatangkan agar perayaan bersejarah ini dapat berjalan dengan khidmat dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Menurutnya, usia 666 tahun merupakan bukti nyata betapa panjang dan kuatnya akar sejarah Islam yang tumbuh berdampingan secara damai di Fakfak. “Peringatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah refleksi sejarah yang sangat besar. Kita ingin menunjukkan kepada generasi muda dan dunia luar bahwa sejak 666 tahun lalu, fondasi kedamaian dan toleransi beragama di Tanah Papua, khususnya di Fakfak, sudah tertanam dengan sangat kuat,” ujar Wahidin Puarada saat memberikan keterangan di Fakfak. Sebagai daerah yang dikenal dengan filosofi “SATU TUNGKU TIGA BATU”,

TELAAH AKADEMIS

Berbagai penelitian menguatkan keberadaan Islam sejak abad ke-14 di Papua melalui bukti Artefak, Masjid Tua, Kitab Al-Qur’an, dan Tradisi Masyarakat.

Dalam Jakarta Islamic Center (11 Januari 2025) : Umat Islam akhirnya menetapkan bahwa Islam pertama kali hadir di Tanah Papua pada Selasa, 8 Agustus 1360 Masehi, atau bertepatan 24 Ramadhan 761 Hijriyah. Momen bersejarah tercatat dalam Seminar Nasional mengenai masuknya Islam di Tanah Papua. “Islam telah terinternalisasi dalam sistem kerajaan di Fakfak seperti Kerajaan Fatagar, Rumbati, Atiati dll, serta kerajaan lainnya di Papua Barat dan Raja Ampat,” ( KH. Fadhlan Rabbani Garamatan) . Fakta ini juga menegaskan bahwa Islam menjadi bagian penting dalam sistem sosial masyarakat Papua, selaras dengan konsep “Satu Tungku Tiga Batu”, yang merangkul harmoni antara Islam, Kristen, dan Katolik.

SATU TUNGKU TIGA BATU, Ungkapan ini awalnya terdengar sederhana, tetapi semakin dalam dikenali, semakin terasa kedalaman maknanya. Bagi warga Fakfak, Satu Tungku Tiga Batu adalah identitas sekaligus perekat sosial yang menjaga harmoni di tengah keberagaman. Awalnya, filosofi ini digunakan untuk menggambarkan hubungan harmonis antara umat beragama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik yang hidup berdampingan. Namun, dalam perkembangannya, Satu Tungku Tiga Batu mencakup dimensi yang lebih luas: hubungan antara adat, agama, dan pemerintah dalam tata kehidupan masyarakat, serta bahkan sampai ke lingkup keluarga, di mana satu marga bisa saja memeluk agama yang berbeda, namun tetap dipersatukan oleh ikatan kekeluargaan dan falsafah hidup bersama.

Di sinilah letak keunikan Fakfak. Nilai kebersamaan tidak berhenti pada tataran slogan, tetapi hidup dalam keseharian warganya. Ketika ada pesta adat, doa syukuran, hingga acara keluarga, semua pihak hadir tanpa melihat perbedaan keyakinan. Adat memberi ruang untuk semua, agama meneguhkan moral, sementara pemerintah menjadi penyangga keteraturan. Perpaduan ini menjadikan Satu Tungku Tiga Batu lebih dari sekadar kearifan lokal; ia menjadi mekanisme sosial yang terbukti menjaga kedamaian di tengah perbedaan.

Kearifan ini juga menjadi teladan bagi dunia pendidikan, melalui Lembaga Pendidikan Keagamaan mulai dari tingkat SD/MI, MTs, MA sampai dengan Perguruan Tinggi Islam di Tanah Papua, Di tengah dinamika global yang kadang memunculkan intoleransi, Falsafah ini mengajarkan cara paling sederhana sekaligus paling mendalam: saling menopang satu sama lain. Khusunya Perguruan Tinggi, Mahasiswa belajar langsung dari lingkungannya bahwa harmoni hanya bisa tercapai jika ada cinta, penghargaan, dan kesediaan untuk menerima perbedaan. Dengan begitu, pendidikan agama tidak sekedar mengajarkan teks, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang nyata. Targetnya: melahirkan ustadz yang kalau khutbah, jemaat sebelah gereja juga ikut dengar karena adem.

Dalam Konteks Islam Masuk Di Papua Ke-666 Tahun, Papua disebut sebagai sebuah wilayah, dalam sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Artinya: ia datang paling akhir, di ujung Timur, dan di tengah masyarakat yang sangat majemuk.

Angka “666 Tahun” bukan sekedar merujuk tahun Masehi, tapi simbol dalam kajian sejarah Islam Nusantara untuk menandai bahwa Papua adalah wilayah paling timur dalam rantai panjang penyebaran Islam di Nusantara. Jika dihitung dari gelombang pertama Islam masuk ke pesisir Sumatera abad ke-7, sementara dari berbagai penelitian yang menguat, keberadaan Islam sejak abad ke-14 di Papua melalui bukti Artefak, Masjid Tua, kitab Al-Qur’an, dan Tradisi Masyarakat. Sehingga masuknya Islam secara kelembagaan ke Papua terjadi pada “gelombang ke-6” di abad ke-20. Dari sudut pandang akademisi, ini bukan sekadar catatan sejarah. Tetapi Ini adalah amanah peradaban.

3. FILOSOFI “ISLAM 666 TAHUN” DALAM MODERASI

Ini Moderasi berbasis generasi, angka 666 tahun memberi kita 3 pelajaran moderasi : Pelajaran Makna Moderasi di Papua :

Islam Datang Paling Akhir, karena Islam tidak arogan. Datang untuk melengkapi, bukan mendominasi :

Di Ujung Timur Islam harus jadi “pelita”. Menerangi tanpa membakar:

Di Tengah Keberagaman Islam harus jadi “air”. Mengalir, menghidupi semua tanaman.

Para akademisi (sejarah dan antropologi) membagi masuknya Islam ke Papua dalam 3 fase:

A. FASE PEDAGANG & KESULTAN: Abad 15 – 18

Sekitar 500-600 tahun lalu, Islam pertama kali masuk ke Tanah Papua melalui jalur perdagangan rempah dan perkawinan. Berdasarkan kajian para akademisi, bukti awal penyebaran Islam di wilayah ini bersumber dari naskah kuno dan tradisi lisan masyarakat pesisir.Pelaku utama penyebaran Islam pada masa itu adalah para pedagang dari Maluku : Ternate, Tidore, Bacan, dan Bugis yang berlayar ke wilayah timur Nusantara untuk berdagang rempah. Wilayah yang pertama kali disinggahi meliputi Fakfak, Kokas, Bomberai, hingga Raja Ampat. Keempat wilayah ini menjadi titik awal interaksi antara pedagang Muslim dengan masyarakat lokal.Ciri khas penyebaran Islam di Papua pada masa itu adalah melalui jalur perdagangan rempah dan perkawinan. Pendekatan damai dan kultural menjadi kunci utama. Bukti paling kuat adalah masuk Islamnya raja-raja kecil di Fakfak yang terjalin karena hubungan politik dan kekeluargaan dengan Kesultanan Tidore. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut sebagai “cikal bakal Islam pesisir” di Tanah Papua. Islam yang tumbuh berdampingan dengan budaya, adat, dan kearifan lokal masyarakat.Hingga kini, jejak “Islam pesisir” tersebut masih hidup dan menjadi dasar peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua yang puncak acaranya akan dipusatkan di Kabupaten Fakfak pada 8 Agustus 2026.

B. FASE MUBALIG & GURU: Awal Abad 20

100 tahun lalu, Di fase ini pelakunya berubah. Bukan lagi pedagang, tapi Pelakunya Guru-guru dari Sulawesi, dan Hadramaut. Metode yang di lakukan adalah mendirikan surau, pesantren kecil, dan sekolah.Cirinya sangat berbeda dengan fase sebelumnya. “Ciri paling menonjol: mulai muncul kelembagaan. Sehingga Islam tidak lagi hanya di pesisir, tapi mulai masuk ke pedalaman lewat jalur sungai, “Jadi kalau hari ini kita punya madrasah di pegunungan, punya TPA di hulu sungai, akarnya dari 100 tahun lalu. Dari guru-guru yang jalan kaki dan naik perahu,” pungkasnya. Fase kelembagaan inilah yang kemudian menjadi jembatan menuju lahirnya kampus-kampus Islam di Papua pada era kemerdekaan hingga sekarang.

C. FASE KELEMBAGAAN KAMPUS & ORMAS: 1950 – Sekarang

“Tahun ke-666” dalam narasi dakwah Pelaku: NU, Muhammadiyah, DDII, dan yang paling penting: Kampus Islam.  Ciri: Islam masuk dalam bentuk sistem pendidikan tinggi, dakwah terstruktur, dan kaderisasi. Jadi “666 tahun” adalah akumulasi: 500 tahun tradisi + 100 tahun kelembagaan + 66 tahun kampus.

Ciri fase ini adalah Islam masuk dalam bentuk sistem. Ada sistem pendidikan tinggi, ada dakwah yang terstruktur, dan ada kaderisasi yang jelas,” sebagai bukti nyata adalah lahirnya IAIN Fattahul Muluk Papua, terletak di Kota Jayapura, Provinsi Papua, IAIN Sorong terletak di Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya.Perguruan Tinggi Islam Swasta seperti STAI Al-Mahdi Fakfak terletak di Kabupaten Fakfak Papua Barat. STAI Asy-Syafi’iyah Nabire terletak di Kabupaten Nabire Papua Tengah, STAI YAMRA Merauke terletak di Kabupaten Merauke Papua Selatan, STIT YAPIS Manokwari terletak di Kabupaten Manokwari Papua Barat, STAI YAPIS Jayapura terletak di Kota Jayapura Papua. Selain itu ada perguruan Tinggi Swasta yang bernaung di bawah yayasan yang bernuansa Islam. Sehingga 3 tugas yang paling penting di lakukan beberapa kampus di atas adalah : Mencetak guru dan ulama asli Papua, Melakukan riset tentang Islam dan budaya lokal, serta Menjadi penengah saat ada isu SARA.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

error: Content is protected !!