
Fakfak – GOW (Gabungan Organisasi Wanita) Kabupaten Fakfak menyatakan sikap mendukung dan siap menyukseskan Peringatan Islam Masuk Tanah Papua yang mana puncak peringatanya 8Agustus 2026 mendatang.
Selain GOW. Sebelumnya juga stakeholder juga menyataan siap mendukung pelaksanaan peringatan Islam Masuk Tanah Papua. setelah pelaksanaan Misi 132 Tahun Katolik di Tanah Papua.
Ketua Panitia. Ust H Wahidin Puarada menyambut baik dukungan dari berbagai pihak termasuk GOW yang dengan sukarela memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Agama Islam Masuk Tanah Papua
Menurut WP. Dukungan ini merupakan salah satu kekuatan baru yang bisa memberikan sosialisasi terhadap rencana pelaksanaan peringatan Islam Masuk Tanah Papua. yang dilaksanakan di Kabupaten Fakfak.
Tidak membatasi siapa saja yang memberikan dukungan atas pelaksanaan masuknya Agama Islam di Tanah Papua. Panitia juga membuka ruang untuk semua pihak mengambil peran dalam menyukseskan kegiatan dimaksud.
“Sebagai Ketua Panitia. Saya memberikan apresiasi kepada Ibu-Ibu GOW Kabupaten Fakfak telah menyatakan kesiapan dan kesanggupan dalam mendukung kegiatan peringatan Islam Masuk Tanah Papua”, Jelas WP.
Tentunya, apresiasi ini tidak saja kepada GOW Kabupaten Fakfak yang telah menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan peringatan Islam Masuk Tanah Papua, Jumat, 29 Mei 2026 kemarin.
Puarada dengan terang menyatakan apresiasi juga kepada semua pihak yang terus memberikan dukungan agar terselenggaranya kegiatan peringatan Islam Masuk Tanah Papua dengan sukses.
Kabupaten Fakfak salah satu daerah yang memiliki beragam latar belakangan masyarakat karena itu mari kita saling menjaga bahkan berangkulan untuk perkuat hubungan persaudaraan antar sesama.
Sebelumnya, Ketua Panitia Perayaan Masuknya Agama Islam di Tanah Papua , Dr. H. Wahidin Puarada, M.Si, mengatakan rangkaian kegiatan akan diawali dengan lomba kasidah yang diselenggarakan oleh Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Fakfak. dimulai Juni 2026.
Selain lomba Qasidah, panitia juga menyiapkan berbagai perlombaan bernuansa Islami yang melibatkan masyarakat dan generasi muda. di antaranya, lomba salawat, hadrat, tilawah, tarian sawat, serta pidato sejarah masuknya agama Islam.
Menurut Wahidin, seluruh rangkaian kegiatan bertujuan memperkuat syiar Islam sekaligus memperkenalkan sejarah masuknya Islam di Tanah Papua, khususnya Fakfak.
Panitia juga ingin melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam suasana kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah.
“Kegiatan ini bukan hanya seremonial, tetapi juga momentum memperkuat nilai sejarah, budaya Islam, dan mempererat silaturahmi masyarakat,” ujarnya saat diwawancarai di kediamannya, Rabu 20 Mei 2026 lalu.
Panitia juga akan menghadirkan pameran kaligrafi sebagai bagian dari perayaan tersebut. Pameran itu dijadwalkan berlangsung mulai 1 Juli hingga awal Agustus 2026 sebagai wadah apresiasi seni Islam.
Tidak hanya itu, suasana perayaan juga akan dimeriahkan dengan penampilan qori dan qoriah internasional dari Jakarta.
Penampilan tersebut dijadwalkan berlangsung pada malam 6 dan 7 Agustus 2026 menjelang acara puncak.
Wahidin menjelaskan, puncak perayaan akan dilaksanakan pada 8 Agustus 2026 dengan menghadirkan sejumlah tokoh agama dan tamu undangan.
Momentum tersebut diharapkan menjadi penguatan nilai religius sekaligus promosi sejarah Islam di Fakfak.
Salah satu agenda utama dalam puncak acara yakni ceramah agama yang akan disampaikan oleh penceramah nasional, termasuk Ustaz Das’ad Latif dari Makassar dan KH Munawir dari Jakarta, Kehadiran para penceramah tersebut diharapkan dapat memberikan penguatan spiritual kepada masyarakat.
Melalui berbagai kegiatan itu, panitia berharap perayaan masuknya agama Islam di Tanah Papua dapat berlangsung meriah, edukatif, dan penuh makna.
Selain menjadi ajang syiar, kegiatan ini juga diharapkan semakin memperkuat identitas Fakfak sebagai daerah dengan sejarah panjang perkembangan Islam di Papua.
Diketahui bahwa Sejarah masuknya Islam di Tanah Papua—yang berpusat di wilayah Kabupaten Fakfak dimulai sejak 8 Agustus 1360 M.
Penyebaran ini dibawa secara damai melalui jalur perdagangan dan dakwah dari Kesultanan di Maluku dan mubalig luar Nusantara.
Abad ke-14 (1360 M): Mubalig asal Aceh bernama Abdul Ghafar mendarat di Fatagar Lama (Kampung Rumbati, Kabupaten Fakfak) dan menyiarkan Islam.
Tanggal 8 Agustus kemudian disepakati dan diresmikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat sebagai hari bersejarah masuknya Islam di Tanah Papua.
Abad ke-15 hingga ke-16 (1500-an M): Penyebaran semakin meluas ke wilayah pesisir barat Papua seperti Semenanjung Onin (Fakfak), Kaimana, dan wilayah Raja Ampat.
Proses ini didorong oleh kuatnya pengaruh Kesultanan Tidore, Ternate, dan Bacan yang memiliki hubungan kekerabatan dan perdagangan dengan kepala suku di Papua.
Abad ke-17 (1606 M): Pemuka agama dan masyarakat di wilayah Kepulauan Raja Ampat (seperti Waigeo dan Misool) tercatat telah resmi menerima ajaran Islam serta mendapat dukungan dari Kesultanan Bacan.
Abad ke-20 (1920–1940-an): Organisasi Muhammadiyah mulai masuk ke tanah Papua. Di wilayah Papua Barat, penyebaran ini sangat diprakarsai oleh tokoh adat setempat, salah satunya Raja Rumbati Haji Ibrahim Bau, yang mengembangkan ajaran dan amal usaha Muhammadiyah.
Fakta Menarik
Perkembangan Islam di tanah Papua sangat erat kaitannya dengan filosofi toleransi “Satu Tungku Tiga Batu” di wilayah Fakfak.
Konsep ini menyatukan unsur adat, agama (Islam, Kristen, Katolik), dan pemerintah yang saling menjaga kedamaian dan keharmonisan hingga hari ini.




