Fakfak – Bupati Fakfak mengatakan bahwa peringatan hari Masuknya Agama Islam di Tanah Papua yang ke-666 tahun, disamping mengenang peristiwa sejarah yang pernah terjadi, juga sebagai sarana untuk bersilaturrahim antar sesama masyarakat fakfak, yang tidak dibatasi oleh suku, etnis dan agama.
Dikatakan, kegiatan yang bernuansa Agama memiliki dua sifat yaitu, ritual dan seremonial. bersifat ritual adalah kegiatan ibadah yang didasarkan pada keyakinan dan keimanan pribadi yang tidak bisa diganggu oleh yang lain, seperti kegiatan ibadah di dalam masjid dan ibadah di dalam gereja.
Sedangkan kegiatan yang bersifat seremonial adalah kegiatan yang bisa memberikan peluang bagi suku, etnis dan pemeluk agama lain bisa terlibat memberikan kontribusinya untuk ikut meramaikannya, seperti kegiatan memperingati hari Masuknya Agama Islam di Tanah Papua Ke-666 Tahun saat ini.
“Melalui kesempatan ini perlu kami informasikan bahwa di Fakfak terdapat situs-situs, antara lain situs religi berupa bangunan Masjid Tua Wertuar yang berdiri pada Tahun 1870, terletak di Kampung Patimburak di Distrik Kokas, dan ada juga situs tapak tangan di distrik arguni, yang konon keberadaannya sudah tiga ribu tahun yang lalu
Hingga saat ini masih eksis dan ada pula Al-Qur’an tua tulisan tangan, yang ditulis pada abad ke-16 menurut hasil penelitian dari peneliti universitas indonesia bernama dr. titik pujiastuti dkk dan dari kementerian agama yang juga pernah meneliti tentang warisan manuskrip tua di fakfak dan manuskrip tua berupa al-qur’an tua tulisan tangan itu masih eksis saat ini.”, Ungkap Bupati Fakfak. 8 Agustus 2026 pagi di panggung RTH Reklamasi.
Sebeum menutup sambutan tersebut, Bupati Fakfak. Samaun Dahlan mengapresiasi kehadiran KH Ust. Munawir Aseli dari Jakarta, menurutnya, kehadiran Ust. Aseli penting bagi masyarakat fakfak untuk menjabarkan misi yang diajarkan islam ke tanah papua yaitu konsep rahmatan lil alamin, konsep cinta kasih,
“Konsep ini akan melahirkan keharmonisan, nilai keharmonisan itu harus diaktualkan ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang beragam, mengingat Nabi Saw mengajarkan Agama yang dicintai Allah Swt adalah Agama yang mengajarkan tentang kebenaran dan mengajarkan hidup bertoleransi.”, Ajak Samaun Dahlan mengutip pean Dakwah Islam.
Wahidin Puarada menjelaskan bahwa kegiatan menyambut Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua. 8 Agustus 2026. terdapat 6 jenis lomba yang dilaksanakan sejak 15 Juli 2026 malam dibuka secara resmi oleh Bupati Fakfak serta penutupan 4 Agustus 2026 malam.
Lomba Islami tersebut adalah lomba dengan waktu terpanjang selama kegiatan di Fakfak maupun daerah lain yaitu, 21 hari lamanya. dan yang mendukung kegiatan dimaksud bukan saja dari kalangan Muslim bahkan ada keluarga Non Muslim di Fakfak maupun luar Fakfak yang berkonstriibusi nyata, ini budaya Satu Tungku Tiga Batu yang bukan sekedar slogan
“Jumlah Lombanya sebanyak 7 mata lomba, ada pidato sejarah masuknya agama islam di tanah papua, ada Hadrat, Samrah, Sholawat, Sawat, Barzanji berjama`ah dan Baca Yasin berjama`ah, dengan total peserta adalah 257 Grup.
Jumlah peserta yang ikut adalah 4.467 orang. persiapan ini memakan waktu selama 3 bulan hingga start 15 Juli 2026 kemarin dan puncaknya 8 Agustus 2026 pagi. selama itu juga dukungan datang dari saudara-saudara kita yang Non Muslim’, Ungkap Wahidin Puarada.
Diketahui, terlihat dan ini menjadi catatan sejarah semua masyarakat bahwa, kegiatan keagamaan di Fakfak bukan hal baru bagi masyarakat fakfak, ketika kegiatan Umat Kristen yang menjadi garda terdepan adalah Umat Islam. seperti berpartisipasi dalam pembangunan maupun menyukseskan hari-hari besar keagamaan umat kristiani.
Begitu juga jika hari besar umat islam maka yang menjadi peran utama adalah saudara-saudara yang beragama Kristen. ini yang berbeda dengan daerah lain dan hanya terjadi di Fakfak. jadi agama di Fakfak sebagai media pemersatu umat.
Salah satu contoh adalah. pada peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam Di Tanah Papua. 8 Agustus 2026. banyak partisipasi dari saudara-saudara yang beragama Kristen dan nilainya cukup fantastis. tapi bukan soal nilai melainkan keharmonisan yang dibangun,. ini wujud dari Falsafah “Satu Tungku Tiga Batu”.
Satu Tungku Tiga Batu adalah filosofi hidup dan kearifan lokal masyarakat Kabupaten Fakfak yang melambangkan kerukunan, persaudaraan, dan toleransi beragama. Tungku dipakai sebagai simbol rumah atau kehidupan, sedangkan tiga batu penopangnya menyimbolkan keharmonisan hidup berdampingan di tengah perbedaan.




