15.4 C
New York
Jumat, Mei 1, 2026

Buy now

Presiden Groundbreaking Tahap II: Dari Kajian Satgas Hilirisasi, Danantara Langsung Implementasi

Cilacap – Groundbreaking proyek strategis hilirisasi yang diluncurkan Presiden RI Prabowo Subianto menjadi tindak lanjut konkret dari feasibility study (FS) yang telah disusun oleh Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional yang dipimpin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia selaku Ketua Satgas.

Setelah seluruh kajian dan penyusunan feasibility study diselesaikan oleh Satgas, tahapan selanjutnya diserahkan kepada Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk dieksekusi menjadi proyek investasi strategis nasional. Groundbreaking tahap I dan tahap II menjadi penanda bahwa hasil kerja Satgas telah memasuki fase implementasi nyata di lapangan.

Bahlil mengatakan, proyek hilirisasi yang telah di-groundbreaking pada tahap I dan tahap II menunjukkan bahwa hasil kerja Satgas Hilirisasi tidak berhenti pada tahap kajian, tetapi langsung ditindaklanjuti menjadi proyek nyata yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“FS yang disusun Satgas menjadi landasan penting agar setiap proyek hilirisasi berjalan dengan hitungan yang matang, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi negara serta rakyat Indonesia,” ujar Bahlil usai ditemui setelah acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Tahap II di Kilang Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4).

Menurut Bahlil, Satgas Hilirisasi bertugas memastikan proyek-proyek hilirisasi memiliki dasar perencanaan yang kuat, sementara tahap eksekusi dan investasi selanjutnya dijalankan oleh Danantara agar implementasinya lebih cepat dan terukur.

“Begitu FS selesai, proyek-proyek itu masuk ke tahap implementasi dan menjadi tugas Danantara untuk memastikan investasi berjalan, proyek terealisasi, dan manfaatnya dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Menurut Bahlil, arahan Presiden sangat jelas bahwa hilirisasi harus menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Kita tidak boleh lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hilirisasi harus menjadi alat untuk memperkuat kedaulatan energi, memperbesar penerimaan negara, membuka lapangan kerja, dan memastikan kekayaan alam Indonesia benar-benar dinikmati oleh rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dari proyek hilirisasi yang telah groundbreaking pada tahap I dan tahap II, sebagian besar merupakan proyek strategis yang berada dalam lingkup sektor energi dan sumber daya mineral, mulai dari smelter alumina dan bauksit di Mempawah, fasilitas produksi bioavtur dan bioethanol, pembangunan kilang gasoline, fasilitas penyimpanan BBM, proyek Dimethyl Ether (DME), hingga hilirisasi nikel, baja karbon, aspal Buton, tembaga, emas, dan biodiesel sawit.

Saat peresmian, Presiden Prabowo menekankan bahwa bangsa yang ingin maju harus berani menguasai dan mengolah sumber dayanya sendiri, bukan hanya menjual bahan mentah.

“Kita tidak mau sekadar jual bahan baku. Kita mau olah turunan-turunannya di Indonesia supaya nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia,” jelas Presiden.

Presiden juga secara khusus memberikan arahan kepada tim hilirisasi dan Danantara untuk terus mengevaluasi proyek secara objektif dengan pendekatan teknologi terbaik dan perhitungan yang efisien.

“Jadi, saudara-saudara tim hilirisasi dan Danantara, kaji terus teknologi ya. Kaji terus teknologi. Lihat matematis. Matematis, matematis,” imbau Presiden.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) Rosan Roeslani menyatakan pelaksanaan seluruh proyek hilirisasi nasional akan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.

“Kami berkoordinasi selalu dengan Pak Bahlil sebagai Menteri ESDM dan Ketua Satgas dalam rangka melihat proyek-proyek hilirisasi ini yang memang segera kita laksanakan dalam rangka penciptaaan nilai tambah, penciptaan industri dan penciptaan pekerjaan,” jelasnya.

Pada tahap pertama yang groundbreaking pada 6 Februari 2026, proyek sektor ESDM mencakup smelter alumina menjadi aluminium dan bauksit menjadi smelter-grade alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, fasilitas produksi bioavtur dari used cooking oil di Cilacap, serta fasilitas produksi bioethanol di Banyuwangi.

Sementara pada tahap kedua yang diresmikan hari ini, proyek strategis sektor ESDM meliputi pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap dan Dumai, tangki operasional penyimpanan BBM di Palaran, Biak, dan Maumere, pengolahan batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, manufaktur baja nirkarat dari nikel di Morowali, produksi slab baja karbon dari bijih besi lokal di Cilegon, pengembangan ekosistem aspal Buton, hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, serta pengolahan minyak sawit menjadi produk hilir oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei.

Khusus untuk pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap dan Dumai, proyek ini ditargetkan memperkuat swasembada energi nasional dan menurunkan impor bensin sekitar 10 persen volume nasional, dengan kapasitas produksi sekitar 153 ribu kiloliter per tahun.

Sementara proyek DME di Tanjung Enim menjadi langkah strategis untuk mendukung substitusi impor LPG, mengingat sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.

Dengan berjalannya proyek-proyek tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis hilirisasi, memperkuat industrialisasi nasional, dan mewujudkan kedaulatan energi sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih mandiri dan sejahtera.

 (rls/ret)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

error: Content is protected !!