21.6 C
New York
Sabtu, September 12, 2026

Buy now

Samaun Dahlan Sholat Idul Adha 1447H di Masjid Agung Fakfak, Wahidin Puarada Lantunkan Gema Takbir

Laporan : Rustam Rettob/Wartawan

Fakfak – Gema suara takbir menjelang sholat Idul Adha 1447 H berkumandang syahdu dan meriah di berbagai penjuru, mengiringi malam hingga pagi hari pelaksanaan ibadah kurban.

Kumandang takbir ini menyambut hari raya dengan penuh rasa syukur dan keagungan kepada Allah SWT. Untuk Kabupaten Fakfak. pelaksanaan Ibadah sholat idul adha diseluruh masjid.

Bupati Fakfak. Samaun Dahlan bersama Istri tercintanya memilih melaksanakan Ibadah Sholat idul Adha 1447H/2026M di Masjid Agung Baitul Makmur Kabupaten Fakfak.

Bupati Samaun Dahlan mengenakan baju koko berwarna putih dipadukan degan celan kain berwarna hitam serta kopiah berwarna hitam. Sementara istri tercintanya. Nur Widayati tampil elegan dengan seragam Muslimah berwarna putih.

Ketua DPD Golkar Papua Barat itu mengambil posisi sholat dibekalang Imam Masjid Agung Baitul Makmur Kabupaten Fakfak. deretan ini sebetulnya posisi Forkompimda namun sebagian memilih sholat di masjid terdekatnya.

Sementara Ibu Ketua TP PKK Kabupaten Fakfak masih tetap bergabung dengan shaff ibu ketika sholat idul adha di masjid agung baitul makmur kabupaten fakfak. Bupati bersama istrinya turut didampingi ajudan masing-masing.

Sedangkan lantunan gema takbir di Masjid Pemerintah Daerah ini ada beberapa yang telah ditugaskan Panitia Pembangunan Masjid. Ketika itu. Wahidin Puarada. Mantan Bupati Fakfak. periode (2000-2010) saat menyesuaikan dengan shaff laki paling depan.

Wahidin kemudian dipercayakan untuk melantunkan suara emasnya yaitu, lantunan gema takbir, tahlil dan tahmid menjelang sholat idul adha 1447H. kurang lebih 20 menit. Mantan Qori nasional ini serasa mengenang masa-masanya. Tak kuasa menahan air matanya.

Wahidin Puarada yang kini menjabat sebagai ketua Panitia Peringatan Agama Islam Masuk Tanah Papua 8 Agustus 2026 mendatang. Tampil mengenaka jubbah berwarna hitam dengan sarungan kopiah haji berwarna putih

WP sapaan pendekanya duduk diantara Kahtib dan Wartawan mataradarindonesia.com. deretan ini merupakan petugas pelaksana ibadah sholat idul adha 1447H. disampaingnya juga Mantan Kadis Hutbun Fakfak. Abdul Rahim Fatamsyah.

Diketahui, Idul Adha atau Hari Raya Kurban adalah salah satu hari raya besar dalam Islam yang memiliki makna mendalam bagi seluruh umat Muslim di dunia. Pada tahun 1447 Hijriah ini, perayaannya kembali menjadi momen penting bagi setiap keluarga untuk bersyukur, berbagi, dan merenungkan nilai-nilai keikhlasan serta pengorbanan.

Namun, tahukah kamu bagaimana asal-usul dari Hari Raya Idul Adha yang setiap tahunnya dirayakan pada tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah ini. Sejarah Idul Adha tidak lepas dari kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Dalam ajaran Islam, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih anaknya sendiri sebagai bentuk ketaatan yang paling tinggi.

Awalnya, ini tentu menjadi ujian luar biasa berat bagi Nabi Ibrahim, namun ia memutuskan untuk taat kepada perintah Tuhannya.

Saat disampaikan kepada Ismail, sang anak justru menunjukkan ketabahan dan keikhlasan yang luar biasa pula.

Ia berkata, “Wahai Ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”.

Saat momen penyembelihan itu akan dilakukan, Allah Swt menggantikan Ismail dengan seekor domba dari surga sebagai bentuk pengakuan atas ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Inilah yang menjadi dasar ibadah kurban yang dilakukan oleh umat Islam setiap Idul Adha.

Penyembelihan hewan kurban, baik berupa kambing, sapi, atau unta, menjadi simbol kepatuhan terhadap perintah Allah sekaligus bentuk solidaritas sosial karena daging kurban dibagikan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.

Idul Adha juga menjadi bagian dari puncak ibadah haji yang dilaksanakan di Makkah. Jutaan umat Muslim dari berbagai negara berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji, dan salah satu ritual utamanya adalah menyembelih hewan kurban setelah wukuf di Arafah. Maka dari itu, Idul Adha sering disebut pula sebagai “Hari Raya Haji“.

Bagi kita yang tidak berhaji, Idul Adha tetap merupakan momentum besar untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial.

Di era sekarang, semangat berbagi melalui kurban bisa menjangkau lebih banyak orang dengan bantuan teknologi.

Banyak lembaga sosial dan keagamaan yang memfasilitasi kurban secara daring, mempermudah umat Muslim untuk tetap menunaikan ibadah meskipun memiliki keterbatasan waktu dan jarak.

Selain itu, Idul Adha juga bisa menjadi refleksi spiritual, terutama bagi kalangan muda dan mahasiswa. Di tengah kesibukan studi atau pekerjaan, hari raya ini mengingatkan kita untuk tidak hanya mengejar capaian duniawi, tetapi juga mengasah jiwa sosial dan spiritual.

Keikhlasan Nabi Ibrahim dan Ismail mengajarkan bahwa kadang kita harus mengorbankan sesuatu yang berharga demi sesuatu yang lebih besar: ketaatan, cinta kepada Tuhan, dan kepedulian pada sesama.

Idul Adha 1447H ini adalah waktu yang tepat untuk menyatukan hati, memperkuat iman, dan menghidupkan semangat pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadikan momen ini bukan hanya perayaan, tapi juga pengingat bahwa nilai-nilai luhur dalam kisah Nabi Ibrahim masih sangat relevan dalam menghadapi tantangan hidup modern saat ini.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

error: Content is protected !!