Hujan yang turun belum sepenuhnya mengatasi kesulitan air bersih yang dialami masyarakat, di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), air hujan yang ditampung warga terlihat hitam dan keruh sehingga menimbulkan kekhawatiran untuk digunakan dalam kebutuhan sehari-hari.
Fenomena air hujan berwarna hitam saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disebabkan oleh partikel debu, abu, dan arang sisa pembakaran yang melayang di udara dan ikut tersapu serta terbawa turun oleh air hujan.
- Penyapuan Atmosfer (Scavenging): Saat hujan turun, tetesan air mengikat partikel-partikel polutan, jelaga, dan abu sisa karhutla yang menumpuk di atmosfer atau mengendap di atap rumah warga.
- Kondisi Wilayah Terdampak: Fenomena ini sering dilaporkan di daerah-daerah yang mengalami kabut asap pekat akibat karhutla, seperti di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan sekitarnya.
- Karakteristik Air: Air hujan tersebut biasanya berwarna hitam atau keruh, terkadang berbusa, dan mengeluarkan bau tidak sedap terutama pada hujan pertama setelah kemarau panjang.
- Gangguan Kesehatan: Air hujan yang tercampur polutan karhutla tidak aman jika digunakan untuk keperluan konsumsi (dimasak atau diminum) maupun mandi karena mengandung bahan kimia dan partikel berbahaya
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan dan ketersediaan air bersih.
Situasi ini menunjukkan pentingnya perhatian bersama terhadap kebutuhan dasar warga yang terdampak.




