Fakfak – Tugas pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan ditengah kemarau panjang bukan saja menjadi tugas Pemerintah, Tugas TNI maupun Tugas Polri.
Melainkan menjadi tugas semua masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu. termasuk Masyarakat yang mendaiami Wilayah Tanah Mbaham di Kabupaten Fakfak.

Ketua Dewan Adat Mbaham Matta Kabupaten Fakfak. Apnel Hegemur mengimbau melalui fliyer yang berhasil diunggah mataradarindonesia.com mengimbau kepada masyarakat agar tidak melakukan aktifitas pembakaran
“Imbauan Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak kepada seluruh masyarakat Fakfak yang mendiami negeri mbaham ini agar sama-sama menjaga hutan adat dari bahay kebakaran” Pesan Hegemur.
Disampaikan bahwa, Hutan Adat adalah sumber kehidupan, warisan leluhur, dan penopang masa depan anak cucu kita, jangan biarkan api merusak hutan yang telah menjaga kita selama ini.
“Jaga Hutan dan Cegah Kebakaran, Selamatkan Masa depan, Mari Kita Jaga Bersama”, Imbau Apnel Hegemur, ketua Dewan Adat Mbaham Matta Fakfak.
Tertuang difliyer tersebut juga bahwa, Masyarakat jangan membakar hutan dan lahan secara sembarangan.
Kemudian berhati-hatilah saat membuka kebun, membakar sampah, atau melakukan aktifitas lain yang berisiko memicu kebakaran.
Dewan Adat juga minta masyarakat jangan tinggalkan api tanpa pengawasan, terakhir, jika melihat tanda-tanda kebakaran hutan, segera laporkan kepada Pemerintah secara berjenjang, TNI/Polri, Dewan Adat dan pihak terkait lainya.
“HUtan dijaga, Adat Dilestarikan, Masyarakat Sejahtera, Generasi Mendatang tetapi menikmati kehidupan”, Pesan Apnel Hegemur dalam fliyer tersebut diunggah media ini.

Diketahui, Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Fakfak, Papua Barat sepanjang tahun 2026 tercatat mencapai 2.171,05 hingga 2.171,35 hektare.
Angka tersebut mencakup hampir 87 persen dari total keseluruhan karhutla di Provinsi Papua Barat yang seluas 2.496,39 hektare. Tercatat sebanyak 156 hotspot di Kabupaten Fakfak.
Luas karhutla ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2025 yang hanya mencatat seluas 1.228,71 hektare. Beberapa wilayah yang terdampak meliputi kawasan seperti Distrik Tomage (sekitar SP VII) serta Kilometer 71.
Selain Fakfak, data SiPongi+ juga menunjukkan kondisi karhutla yang terjadi di Teluk Bintuni seluas 223,51 hektare, Manokwari Selatan 34,35 hektare, Pegunungan Arfak 33,61 hektare, dan Manokwari 33,54 hektare.
Total luas kondisi karhutla 2026 di wilayah Papua Barat mencapai 2.496,39 hektare yang terjadi pada periode Januari (55,12 hektare), kemudian April (1,08 hektare), Juni (472,08 hektare), dan Juli (1.968,11 hektare).
Karhutla paling banyak terjadi di areal penggunaan lain (APL) 1.558,53 hektare, hutan produksi 363,70 hektare, hutan produksi konversi 229,25 hektare, hutan lindung 36,51 hektare, dan hutan produksi terbatas 308,40 hektare.




