Sorong –
Momentum Wisuda Sarjana ke-20 dan Pascasarjana ke-9 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Kamis (20/8/2026), menjadi catatan membanggakan bagi keluarga besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Fakfak. Dari 18 lulusan program Pascasarjana yang dikukuhkan, tiga di antaranya merupakan kader lintas generasi PII Fakfak yang juga tergabung dalam *Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII) Fakfak*.
Ketiganya adalah *Mohamad Dani Rumalean, M.Pd., Siti Kamariyah Fidmatan, M.Pd., dan Ridwan Siwansiwan, M.Pd.* Mereka resmi menyandang gelar magister setelah menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan Pascasarjana di IAIN Sorong.
Wisuda yang berlangsung dalam Sidang Senat Terbuka tersebut mengukuhkan *162 wisudawan dan wisudawati* dari berbagai unit akademik di lingkungan IAIN Sorong. Dari jumlah tersebut, *72 orang berasal dari Fakultas Tarbiyah, 72 orang dari Fakultas Syariah dan Dakwah, serta 18 orang dari Pascasarjana*.
Prosesi wisuda dipimpin Rektor IAIN Sorong *Suparto Iribaram* selaku pimpinan sidang. Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Penetapan Wisudawan dan Wisudawati serta Surat Keputusan Wisudawan Terbaik tingkat fakultas dan institusi oleh Wakil Rektor I, *Sudirman*, sebelum dilakukan prosesi pengukuhan.
## *Prestasi yang Membanggakan Keluarga Besar PII Fakfak*
Keberhasilan tiga kader PII Fakfak menyelesaikan pendidikan magister mendapat apresiasi dari Ketua Umum KB PII Fakfak, *Drs. La Boisi, S.HI., M.MPd.*
Menurut La Boisi, keberhasilan tersebut bukan sekadar pencapaian akademik individual, tetapi juga harus menjadi inspirasi bagi kader-kader PII lintas generasi untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.
> *“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tiga Keluarga Besar PII Fakfak yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar magister di IAIN Sorong. Ini harus menjadi contoh bagi kader PII bahwa pendidikan merupakan bagian penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia,”* ujar La Boisi.
Ia menegaskan bahwa semangat menuntut ilmu tidak semestinya dibatasi oleh usia. Pengalaman pribadinya menyelesaikan pendidikan magister pada usia sekitar 50 tahun menjadi salah satu bukti bahwa proses belajar dapat terus berlangsung sepanjang kehidupan.
> *“Saya sendiri baru meraih gelar magister di usia 50 tahun. Karena itu, jangan pernah menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti belajar. Selama masih diberikan kesempatan, pendidikan harus terus kita tingkatkan,”* katanya.
Menurutnya, tradisi intelektual dan pendidikan harus terus ditumbuhkan di lingkungan PII. Kader tidak hanya dituntut memiliki pengalaman organisasi dan kepemimpinan, tetapi juga perlu meningkatkan kapasitas akademik dan profesional agar mampu menjawab tantangan masyarakat yang terus berkembang.
## *Ridwan Siwansiwan Angkat Pendidikan Karakter Siswa di Fakfak*
Salah satu dari tiga lulusan tersebut, *Ridwan Siwansiwan, M.Pd.*, mengangkat persoalan pendidikan karakter sebagai fokus penelitian tesisnya.
Tesis tersebut berjudul:
*“Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Siswa Kelas VIII MTs Negeri Fakfak.”*
Tema itu dinilai memiliki relevansi dengan tantangan pendidikan saat ini, khususnya mengenai peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter peserta didik di tengah perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Bagi KB PII Fakfak, keberhasilan para kader menyelesaikan pendidikan Pascasarjana juga membawa tanggung jawab baru. Gelar akademik diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian personal, tetapi diterjemahkan menjadi kerja nyata di lingkungan profesi, organisasi, pendidikan, dan masyarakat.
La Boisi berharap *Mohamad Dani Rumalean, Siti Kamariyah Fidmatan, dan Ridwan Siwansiwan* dapat memberikan kontribusi sesuai bidang tugas dan kompetensi masing-masing.
Keberhasilan ketiganya sekaligus diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh keluarga besar dan kader PII Fakfak, khususnya generasi muda, untuk menempatkan pendidikan sebagai salah satu instrumen utama dalam pembangunan sumber daya manusia.
*“Kader PII harus terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Walaupun usia terus bertambah, proses belajar jangan sampai berhenti,”* tegas La Boisi.
## *Gelar Akademik Membawa Tanggung Jawab Sosial*
Sementara itu, Wakil Gubernur Papua Barat Daya *Ahmad Nausrau, S.Pd.I., M.M.*, dalam sambutannya menyampaikan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan dan wisudawati.
Ia mengingatkan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Sebaliknya, wisuda merupakan pintu masuk menuju fase baru, ketika ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama berada di perguruan tinggi harus mulai diwujudkan dalam kehidupan profesional dan pengabdian kepada masyarakat.
Gelar akademik, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Para lulusan diharapkan mampu mengimplementasikan pengetahuan sesuai bidang keilmuan masing-masing dan mengambil bagian dalam pembangunan daerah serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.
Bagi *KB PII Fakfak, wisuda tiga kader lintas generasi pada momentum yang sama menyampaikan pesan penting: **proses kaderisasi, pendidikan, dan pengabdian merupakan mata rantai yang tidak boleh terputus.*
Prestasi akademik tersebut diharapkan tidak berhenti pada tiga nama yang diwisuda tahun ini. Sebaliknya, keberhasilan mereka diharapkan melahirkan semangat baru bagi kader-kader PII Fakfak lainnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sebab bagi organisasi kader, keberhasilan pendidikan seseorang bukan semata tentang gelar yang ditambahkan di belakang nama, tetapi tentang *seberapa besar ilmu yang diperoleh mampu dikembalikan untuk membangun umat, masyarakat, dan daerah.*
*— KB PII Fakfak*




