-5.2 C
New York
Jumat, Januari 16, 2026

Buy now

Buah dari Sakiti Guru, H Arlan Diperiksa Kemendagri, Ditegur Gerindra

Drama H Arlan, Walkot Prabumulih terus berlanjut. Kemendagri sampai Gerindra turun tangan. Derita dari menyakiti guru terus menghampirinya.

Jangan coba-coba mainkan nasib guru, wahai penguasa. Satu menteri sudah dicopot, ingat itu! Sejarah mencatat, tak ada kekuasaan yang kebal dari murka rakyat ketika mereka menyentuh urusan pendidikan.

Guru itu ibarat lilin, terbakar dirinya demi menerangi murid dan dunia. Tapi coba bayangkan, lilin yang sedang menyala malah ditiup angin oleh Walikota sendiri. Itulah tragedi Prabumulih yang kini jadi bahan ketawa pahit di seluruh negeri.

Kisah ini bermula dari Kepala Sekolah SMPN 1 Prabumulih, Roni Ardiansyah, yang viral gara-gara video perpisahan penuh air mata. Katanya dicopot setelah menegur seorang murid.

Dia (Murid) itu bukan murid sembarangan, tapi konon anak Wali Kota. Ah, betapa malangnya guru di negeri ini, menegur anak pejabat sama dengan menandatangani surat pindah sendiri.

Arlan, sang Walikota, tentu tak mau dicap arogan. Ia buru-buru membantah, “Bukan karena anak saya.” Namun hukum psikologi publik bekerja terbalik, semakin keras bantahan, semakin keras pula kecurigaan.

Sama seperti orang bilang, “Saya tidak marah,” padahal wajah sudah merah padam seperti kepiting rebus.

Kemendagri pun tak tinggal diam. Inspektorat Jenderal memanggil Wali Kota, Kepala Sekolah, dan pejabat lain untuk klarifikasi.

Dalam bahasa birokrasi, itu disebut “pemeriksaan.” Dalam bahasa rakyat, itu artinya, “Kekuasaan lokal sudah kelewat batas.”

Bahkan Gerindra, partai yang mengusung Arlan, ikut menegur. Ketua Gerindra Sumsel, Kartika Sandra Desi, langsung menelepon, memberi sanksi moral, jangan ulangi lagi! Nah, di titik ini, sang Walikota terjebak dalam lingkaran setan pernyataan kontraproduktif.

Pertama, ia bilang mutasi itu wajar. Kedua, ia minta maaf karena salah komunikasi. Ketiga, ia bantah ada intervensi, tapi tetap akui sudah ditegur partai.

Ini ibarat orang bilang, “Saya tidak lapar,” sambil menyantap dua piring nasi Padang. Publik dibuat geleng kepala. Kalau memang mutasi biasa, kenapa harus sampai dipanggil Kemendagri dan ditegur Gerindra?

Filsafat guru mengajarkan, kebenaran lahir dari teguran. Teguran guru adalah tamparan kasih sayang. Tapi dalam kasus ini, teguran guru justru berbuah tamparan politik.

Seorang kepala sekolah yang menegakkan disiplin, mendadak jadi martir birokrasi. Ia menangis, murid-murid menangis, bahkan netizen ikut menangis sambil membuat meme.

Secara psikologi, ini gejala klasik. Penguasa yang tersinggung oleh hal kecil akan merespons berlebihan demi menjaga wibawa.

Padahal, justru di situlah wibawa runtuh. Arogansi ibarat cermin retak, semakin digenggam kuat, semakin melukai tangan sendiri.

Kini publik menunggu hasil pemeriksaan Kemendagri. Apakah Arlan akan diberi sanksi administratif? Atau hanya sekadar peringatan yang hilang bersama angin politik? Tak ada yang tahu.

Tapi yang jelas, masyarakat sudah belajar, di negeri ini, menegur anak pejabat lebih berisiko dari menegur setan di malam Jumat.

Maka sekali lagi, wahai para penguasa, jangan main-main dengan guru. Mereka adalah benteng terakhir akal sehat bangsa.

Kalau benteng itu kau robohkan demi membela anak sendiri, jangan salahkan kalau sejarah menjatuhkanmu. Satu menteri sudah tumbang karena pendidikan, masa Wali Kota mau coba-coba juga?

Penguasa harus ingat, jabatan hanyalah titipan sementara. Sementara guru adalah penopang peradaban yang abadi.

Meremehkan atau mengorbankan mereka demi gengsi pribadi sama saja menggali kubur politik sendiri. Sebab, doa guru yang terzalimi lebih tajam dari seribu pedang dan lebih keras dari palu hukum mana pun.

Sebelumnya diberitakan, kepala sekolah di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, disebut dicopot karena sudah menegur anak dari Wali Kota Prabumulih.

Arlan diduga membawa mobil ke sekolah. Bukan hanya kepala sekolah, Arlan juga mencopot sekuriti di sekolah itu.

Setelah kejadia itu viral, Arlan pun telah memberikan klarifikasi dan meminta maaf serat menyebut berita yang beredar itu adalah hoaks.

Arla sendiri menyampaikan permohonan maaf seusai hebohnya persoalan pemberhentian kepala sekolah ini melalui akun media sosial Instagramnya, @cak.arlan_official. Arlan menyebutkan ada beberapa informasi terkait persoalan ini yang dinilainya salah dan hoaks.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya sebagai Wali Kota Prabumulih mengucapkan permohonan maaf kepada Pak Roni dan seluruh masyarakat Kota Prabumulih. Masalah berita-berita yang hoaks, di media mengatakan bahwa Pak Roni sudah diganti dan dipindahkan ke tempat sekolah lain. Ini adalah berita hoaks,” ujar Arlan, Selasa (16/9).

Arlan mengatakan Kepsek Roni belum dipindahtugaskan ke sekolah lain. Arlan menyebutkan hanya menegur kepsek tersebut karena ada permasalahan dengan siswa.

“Saya belum memindahkan Pak Roni, saya baru menegur Pak Roni karena di sekolahan itu ada masalah kasus yang membuat anak sekolah tidak betah di situ.

Kasus itu sudah mencuat di media massa, maka saya sebagai Wali Kota Prabumulih memanggil Pak Roni, menegur Pak Roni jangan sampai terjadi lagi, yang guru sekolah itu sudah dipindahkan, sudah satu minggu yang lalu,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Prabumulih A Darmadi membantah soal alasan diberhentikannya Kepala SMP 1 Prabumulih Roni Ardiansyah.

Menurut Darmadi, kepala sekolah itu dimutasi karena tiga kasus. Yaitu : Kasus Chat Mesum viral guru, kasus lahan parkir berbayar dan bekerjasama dengan masyarakat.

“Pertama, kasus chat mesum viral guru SMP itu; kedua, kasus lahar parkir berbayar yang bekerja sama dengan masyarakat, menurut pimpinan untuk anak anak sekolah jangan dipungut uang parkir lalu kasus anak wali kota saat hujan deras tidak boleh memarkirkan kendaraan yang mengantarnya ke lingkungan sekolah sehingga anak beliau kehujanan,” kata Darmadi, Rabu (17/9/2025).

(ret)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

error: Content is protected !!