
Fakfak – Bupati Fakfak. Samaun Dahlan percayakan Mantan Bupati Fakfak 2 periode (2000-2010). DR H Wahidin Puarada, M,Si sebagai Ketua Panitia Peringatan masuknya Agama Islam di Tanah Papua
Kegiatan dimaksud puncaknya pada 8 Agustus 2026 mendatang sebagaimana yang telah ditetapkan bersama dalam sebuah seminar belum lama ini di gedung Witnder Tuare. Kompleks Rumah Jabatan Bupati.
Selain Wahidin Puarada yang dipercayakan sebagai Ketua Panitia. Bupati juga telah percayakan sejumlah Tokoh Ormas Islam maupun Tokoh Masyarakat di Fakfak sebagai perangkat panitia membantu Ketua Panitia dalam rangka menyukseskan kehgiatan tersebut
Ketua Panitia Perayaan Masuknya Agama Islam di Tanah Papua , Dr. H. Wahidin Puarada, M.Si, mengatakan rangkaian kegiatan akan diawali dengan lomba Qasidah yang diselenggarakan oleh Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Fakfak. Kegiatan dimaksud direncanakan mulai berlangsung pada Juni 2026.
Selain lomba Qasidah, Wahidin Puarada lanjut menjelaskan bahwa panitia juga menyiapkan berbagai perlombaan bernuansa Islami yang melibatkan masyarakat dan generasi muda, diantaranya, Lomba Sholawat, Lomba Hadrat, Lomba Tilawah, Tarian Sawat, serta Pidato Sejarah Masuknya Agama Islam.
Menurut Wahidin, seluruh rangkaian kegiatan bertujuan memperkuat syiar Islam sekaligus memperkenalkan sejarah masuknya Islam di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Fakfak, Panitia juga akan melibatkan berbagai elemen masyarakat dalam suasana kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah.
Baca juga : Bupati Fakfak Pastikan Das`ad Latif Hadiri Peringatan Islam Masuk Tanah Papua
“Kegiatan ini bukan hanya seremonial, tetapi juga momentum memperkuat nilai sejarah, budaya Islam, dan mempererat silaturahmi masyarakat,” Jelas Wahidin Puarada belum lama ini ke mataradarindonesia
Panitia juga akan menghadirkan pameran kaligrafi sebagai bagian dari perayaan tersebut. Pameran itu dijadwalkan berlangsung mulai 1 Juli hingga awal Agustus 2026 sebagai wadah apresiasi seni Islam.
Tidak hanya itu, suasana perayaan juga akan dimeriahkan dengan penampilan Qori dan Qoriah internasional dari Jakarta. Penampilan tersebut dijadwalkan berlangsung pada malam 6 dan 7 Agustus 2026 menjelang acara puncak.
Wahidin menjelaskan, puncak perayaan akan dilaksanakan pada 8 Agustus 2026 dengan menghadirkan sejumlah tokoh agama dan tamu undangan.
Momentum tersebut diharapkan menjadi penguatan nilai religius sekaligus promosi sejarah Agama Islam di Tanah Papua pada umumnya dan Kabupaten Fakfak pada khususnya.
Salah satu agenda utama dalam puncak acara yakni ceramah agama yang akan disampaikan oleh penceramah nasional, termasuk Ustaz Das’ad Latif dari Makassar dan KH Munawir dari Jakarta.
Kehadiran para penceramah tersebut diharapkan dapat memberikan penguatan spiritual kepada masyarakat. Melalui berbagai kegiatan itu, panitia berharap perayaan masuknya agama Islam di Tanah Papua dapat berlangsung meriah, edukatif, dan penuh makna.
Selain menjadi ajang syiar, kegiatan ini juga diharapkan semakin memperkuat identitas Fakfak sebagai daerah dengan sejarah panjang perkembangan Islam di Papua.
Diketahui bahwa Sejarah masuknya Islam di Tanah Papua—yang berpusat di wilayah Kabupaten Fakfak dimulai sejak 8 Agustus 1360 M.
Penyebaran ini dibawa secara damai melalui jalur perdagangan dan dakwah dari Kesultanan di Maluku dan mubalig luar Nusantara.
Abad ke-14 (1360 M): Mubalig asal Aceh bernama Abdul Ghafar mendarat di Fatagar Lama (Kampung Rumbati, Kabupaten Fakfak) dan menyiarkan Islam.
Tanggal 8 Agustus kemudian disepakati dan diresmikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Barat sebagai hari bersejarah masuknya Islam di Tanah Papua.
Abad ke-15 hingga ke-16 (1500-an M): Penyebaran semakin meluas ke wilayah pesisir barat Papua seperti Semenanjung Onin (Fakfak), Kaimana, dan wilayah Raja Ampat.
Proses ini didorong oleh kuatnya pengaruh Kesultanan Tidore, Ternate, dan Bacan yang memiliki hubungan kekerabatan dan perdagangan dengan kepala suku di Papua.
Abad ke-17 (1606 M): Pemuka agama dan masyarakat di wilayah Kepulauan Raja Ampat (seperti Waigeo dan Misool) tercatat telah resmi menerima ajaran Islam serta mendapat dukungan dari Kesultanan Bacan.
Abad ke-20 (1920–1940-an): Organisasi Muhammadiyah mulai masuk ke tanah Papua. Di wilayah Papua Barat, penyebaran ini sangat diprakarsai oleh tokoh adat setempat, salah satunya Raja Rumbati Haji Ibrahim Bau, yang mengembangkan ajaran dan amal usaha Muhammadiyah.
Fakta Menarik
Perkembangan Islam di tanah Papua sangat erat kaitannya dengan filosofi toleransi “Satu Tungku Tiga Batu” di wilayah Fakfak. Konsep ini menyatukan unsur adat, agama (Islam, Kristen, Katolik), dan pemerintah yang saling menjaga kedamaian dan keharmonisan hingga hari ini.
Sebelumnya : Pemerintah Kabupaten Fakfak mempersiapkan sejumlah agenda besar daerah dengan membentuk panitia gabungan untuk pelaksanaan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus, peringatan masuknya Islam di Tanah Papua, hingga Pesparawi 2027.
Pembentukan panitia tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, dalam rapat bersama unsur pemerintah, tokoh agama, dan berbagai pihak terkait di Fakfak.
Dalam arahannya, Samaun Dahlan menegaskan pola kerja panitia harus diubah dari kebiasaan sebelumnya yang baru mulai bekerja mendekati waktu pelaksanaan kegiatan.
Menurutnya, seluruh agenda besar daerah harus dipersiapkan lebih awal agar pelaksanaannya berjalan maksimal.
“Panitia jangan dibentuk seminggu sebelum kegiatan baru mulai bekerja. Kita harus ubah pola itu supaya semua persiapan matang,” ujar Samaun.
Ia menjelaskan, selain peringatan 17 Agustus dan masuknya Islam di Tanah Papua dan HUT Kota Fakfak, Fakfak juga akan menjadi tuan rumah Pesparawi tahun 2027 yang akan diikuti peserta dari Papua Barat dan Papua Barat Daya atau sekitar 14 kabupaten/kota.
Karena itu, berbagai kebutuhan seperti tempat, akomodasi, hingga kesiapan teknis harus mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Samaun berharap seluruh pihak yang masuk dalam kepanitiaan dapat saling memberi masukan dan bekerja sama menyukseskan seluruh agenda daerah tersebut.
“Orang-orang yang dilibatkan merupakan figur berpengalaman sehingga kegiatan yang dilaksanakan harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Bupati.
Pemerintah daerah, lanjutnya, juga telah menyiapkan dasar dukungan anggaran untuk pelaksanaan kegiatan.
Namun ia meminta seluruh panitia tetap bekerja maksimal dan tidak hanya bergantung pada persoalan anggaran.
Dalam kesempatan itu, Samaun Dahlan juga mengingatkan pentingnya semangat kerja bersama demi suksesnya agenda-agenda besar daerah yang akan membawa nama Fakfak di tingkat regional Papua.




